Forever?????????

dari playlist 1
kamu tak sengaja
mendengar glass beach
sembari menerka makna
Selamanya yang terpenjara
dalam durasi 01:48 dan tanda tanya
yang berderet rapat

kita tak akan sampai
pada satu milyar abad ke depan, katamu,
atau kita memang tak memerlukannya
cukup memiliki hari ini, bukan??
dan sedikit tanda tanya

2021

*diinspirasi musik instrumental dari glass beach

Pasar yang Kesulitan Tidur

pasar gede,
kata spanduk tanggung itu,
tidak pernah tidur
terasa udara pagi
yang masih buta
pada pukul dua
yang telah terbentuk
di jam dua meter
yang membelah jalanan

para pedagang
mendorong troli
menyeberang;
dari barat ke timur
dari timur ke barat
yang tidak mesti disapa
bunyi klakson
yang memecahkan antara:

dua orang
yang kesulitan
memilih bahan bicara
hingga beberapa kali
gerombolan mangga
terguling dengan hati-hati
di kios dua x tiga

pasar gede,
kata lelaki bergelang dua,
pernah tertidur
ketika kekosongan
sempat menyisip
dalam pertemuan

2021

Virus Maret

aku ingin pulang dan
langit masih belum kuning
barangkali tak ada langit seperti itu
hingga beberapa jam nanti

mungkin nanti hujan
mungkin nanti hanya embun
mungkin nanti aku tidak
menyebutnya mungkin

dan aku merasakan Maret
yang lebih sempit dari sekadar
ramalan cuaca
seperti dunia yang terhenti
saat orang-orang memulai rencana
kesemestian atau ketidaksemestian
tak ada bedanya

aku ingin pulang dan
tak tahu kepada kenangan
yang mana

2021

Perinatologi

di ruang tunggu
kartu biru mendesakku
hingga ke depan pintu
kamar opname.
hanya perlu duduk saja
atau sesekali menyandarkan
punggung di tiang
dan mereka terbaring.
tak ada yang menganggap
dirinya tidak sakit-aku pun
yang berjalan di lorong:
menemukan lelaki mendengus
usai ponselnya jatuh dan
perempuan serba kuning
yang menatap timur
dengan cemas.
aku masih mengatur
berbagai perasaan
di sekitar bangsal
perinatologi yang didukung
warna hijau.
aku ingin meniupkan doa
memasuki kamar-kamar
dari sini

2021

Ikan-ikan Berbisik

aku berhenti, di sini, atau
sejenak saja seperti not
menyeru dan terputus,
dan menyambung lagi

dalam waktu yang rawan
di ambang jendela yang penuh
iklan lawas atau dari akuarium:
patung budha tertidur ke utara

dan ikan-ikan seolah berbisik,
seperti berdoa, mungkin ia
kesunyian dari dalam diriku
atau yang lebih jauh daripada itu.

LenggahSilo

2021

Ponsel

magrib kian menjorok ke kiri
seringkali diseberangi hujan
atau hanya mendung yang
kembung di sekitar kota

setengah mati. tiap sedikit
pasang mata kuda besi
membidik penyanyi di bawah
isyarat lampu. tersisa satu

jam yang kian teriris atau tak
akan ada lagi selamat, terima
kasih atau maaf -yang belum
pernah turun dari langit

tepat di garis yang patah itu-
suatu getaran menyingkirkannya
dan dia tak perlu menunggu
untuk dirinya sendiri

2021

N

SUATU sore yang tak mendung, seseorang terasa berteriak memanggil. Suara itu sayup sampai di telingaku saat aku masih berusaha membuka tirai mata. Terdengar, “Pak! Bangun!” berkali-kali dari rumah seberang.

Dalam posisi telentang di kasur, aku kembali memasang telingaku agar mendengar lebih seksama. Dan terulang lagi, “Pak! Bangun!”. Aku merasakan firasat yang kurang baik. Namun, aku harus memastikannya terlebih dahulu.

Tak lama berselang, beberapa ketukan bergetar dari pintu kamarku. Itu pasti Ibu, pikirku. Setelah kubuka pintu, Ibu sudah mengenakan pakaian tertutup nan rapi. Dia bilang, ingin segera pergi ke rumah seberang itu untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.

Aku hanya bisa mempersilakan Ibu memeriksa terlebih dahulu. Kukira aku harus membasuh mukaku yang lusuh oleh mimpi-mimpi. Setelah itu, aku mencoba mengamati kondisi dari jendela. Terlihat, seseorang digotong ke dalam mobil. Tidak. Aku tak ingin menerka sesuatu yang buruk terjadi kepada orang tersebut.

Usai Ibu pulang, ia menceritakan apa yang diketahuinya. Menurutnya, Pak N tadi terbujur lemas setelah makan. Anaknya yang masih dikerubungi harapan berniat membawa Pak N ke rumah sakit agar mendapatkan pertolongan.

Bebas dari menit penantian, mobil pengantar Pak N sudah tiba di rumahnya. Ada tangis yang pecah tipis-tipis. Aku pun segera bergegas meski dunia seakan berhenti. Pak N itu, sudah kuanggap sebagai ayahku sendiri. Dan kudengar dari orang lain, kalau dia memang ayahku.

…..

Dewi Dja

soertidjah itu,
mungkin akan selalu limbung
ketika menyusuri kisah hidupnya
sendiri. tapi ia ingat cara

memetik siter sembari memegang
ujung kebaya. dan menari, baginya,
adalah mengatasi jurang bahasa

ia tak suka tangis dan tragedi
namun, tidak, untuk sandiwara

dan ia miss dja
atau dewi dja dari dardanella

di hadapan sjahrir, ia berkata
nama: satu-satunya harta yang ada

2021

Hujan

hujan jatuh dari belakang
lelaki terdorong ke dapur berita
harga-harga digital jadi penyelamat
–petani dan pedagang sebelum
mikrofon tersingkir dari meja
2021

langit sedang ganti pakaian
malam si kucing buntal
jadi irit 15 menit –karena
hujan muntah di halaman
depan
2021

negeri tumpah hujanku, oh
aku berselancar dari kepalamu
dengan pohon berlumur lumpur
dan membentur wawancara pejabat
2021

hujan jatuh lagi
aku jatuh ke mana
-lagi
2021

Jendela

setiap kubuka jendela,
aku tak tahu apakah waktu
masih berjalan ke depan
hanya ada terang dan petang

dengan sedikit polesan warna
mungkin pada suatu pagi
-saat kubuka jendela
pekarangan tak lagi

menumbuhkan rerumputan
melainkan bangunan dan
kita sebut sebagai rumah
yang tak kita tahu milik

siapa. bahkan kita tak
sempat tahu karena malaikat
lebih dulu menanggalkan
sayapnya di jendela

mungkin aku akan bahagia
kau juga. tapi barangkali
butuh waktu yang lama
jangan menangis nanti

setiap kaubuka jendela

2020

Pukul 9

Pukul 9 malam, aku harus keluar rumah karena tak kuasa menahan diri. Banyak hal yang ingin kutemukan ketika aku tak berada di dalam rumah. Mungkin harapan. Aku tak tahu tempat lain selain kedai kopi yang satu minggu lalu kukunjungi itu.
Aku tak terlalu suka kopi. Tapi aku sangat suka kesunyian di tempat yang tepat. Kalau pun aku tak memperoleh teman untuk berbalas pengalaman, mungkin aku bisa berbicara sendiri, tanpa sepatah kata yang keluar dari mulutku.
Atau aku tak perlu melakukan apa pun. Tapi mustahil jika manusia tak melakukan apa pun- barangkali aku sudah manusia. Mungkin aku akan lebih sering merapikan rambut di sana atau menggaruk kepala atau mungkin menendangnya jika bisa. Keluar lah! Keluar kau berbagai pikiran yang sebaiknya tak harus kupikirkan. Begitu lah.
Tapi kapan pukul 9 malam itu? waktu seolah tak melakukan apa pun di dinding itu. Bukan waktu tapi jam. Dia mati. Tak bergerak. Apakah itu artinya dia tak melakukan apa pun. Dia berusaha melangkahkan jarumnya meski baterai sudah tidak berdaya, kau tahu!
Jadi baterai itu penyebab dari kematian waktu. Coba kau tengok apakah ada baterai yang tersemat di tubuh jam itu.
Tunggu! kau ini memerintah siapa? Bukannya aku sedang berhadapan denganmu? Belum tentu. Tapi tentu saja diriku sendiri.
Kau ini bagaimana? Kau yang bagaimana? Kau atau aku yang bagaimana?
Baiklah aku menuruti perintahku saja. Aku tengok jam itu, apakah ada baterai di dalamnya.
Ternyata tidak ada. Tak ada baterai. Lalu siapa penyebab jam itu mati? Kenapa harus memikirkan penyebab jam yang mati jika waktu terus berjalan, bahkan ada bilang berlari.
Tapi kalau tidak ada pukul 9, aku tidak bisa berangkat ke kedai kopi sesuai keinginanku. Aku tidak bisa minum kopi yang sebenarnya aku pun tak terlalu suka meminumnya. Aku tak jadi menemukan hal, yang barangkali itu sebuah harapan. Aku tidak bisa menendang pikiran-pikiran yang seharusnya tak perlu kupikirkan.
Jadi menurutku, harus kucari dulu baterainya agar jam bisa kembali hidup. Biar jam itu hidup sebagaimana baterai itu memberi kehidupan.
Aku menemukannya di tempat yang tak jauh dari jam itu, baterai baru. Segera kupasang. Tapi aku tak tahu segera atau tidak. Tak tahu pula cepat atau lambat. Sebab tak ada jam. Tak ada penanda waktu.
Dan jarum tak kunjung bergerak setelah baterai kusematkan pada tubuh jam itu. Tunggu sebentar. Sebentar lagi dia akan hidup. Dan mengapa aku menggunakan kata sebentar sedangkan aku tak memahami gerak waktu. Entah lah. Waktu semakin kupikirkan. Apakah ia termasuk hal-hal yang seharusnya tak kupikirkan? Entah lah lagi.
Akhirnya, dia hidup. Jam itu hidup. Coba kau atur dia. Baiklah aku atur dia. Tapi sekarang pukul berapa? Bukankah jam ini satu-satunya yang kita miliki?
Aku kira hanya perlu mengaturnya pada pukul 9 agar aku langsung berangkat ke kedai kopi. Dan apakah ‘terserah’ itu bisa ditujukan kepada diri sendiri? Sepertinya bisa. Kuanggap bisa. Aku keluar. Benar-benar keluar ke kedai kopi pada pukul 9. Namun, aku terkejut mengapa jalanan terlihat begitu sepi. Mungkin ini pukul 9 ala pembatasan sosial berskala besar itu. Dan pagar kedai kopi ternyata tak menyambut kedatanganku. Apakah kedai itu terkena imbas aturan? Tapi tak ada seseorang di kedai kopi. Justru tempat itu bukan seperti kedai kopi. Gelap.
Mungkinkah aku perlu tak melakukan apa pun. Melakukan hal yang mustahil dilakukan oleh seseorang yang merasa manusia.
Tapi tiba-tiba ada seruan dari pengeras suara. Terdengar sayup. Semakin jelas. Dan semakin jelas. Itu bunyi subuh! Aku tahu itu bukan bunyi pukul 9. Apalagi 9 malam. Aku juga tahu, bahwa aku tak menemukan harapan.

2020

Peluru dan Bunga

Peran:

Kiyana (Perawan), 29 tahun
Ratih (Istri kedua) 29 tahun
Asih (Istri pertama) 25 tahun

Perasaan gundah melingkupi setiap orang yang baru pertama kali mengalaminya. Tentang kegelapan yang ternyata bisa saja menyelimuti langit di kala siang.
Menjelang terik matahari dipadamkan sebagaimana pesan dari pelbagai surat kabar, orang-orang tergidik cemas karena akan dihadapkan pada peristiwa yang rutinan itu.
Belum lagi insiden yang seiring, banyak kematian tak wajar yang sengaja dibiarkan. Namun, persoalan lain juga timbul, salah satunya rasa was-was yang bisa merundung siapa pun ketika usia dirasa kian menenggelamkannya.
(Musik in)
(lampu fade in)
DI SUATU RUMAH YANG SUNYI SAAT SORE, RATIH TAMPAK MENGELAP SEBUAH PISTOL SEJENAK. LALU IA MELANJUTKAN WAKTU SENGGANG DENGAN MEMBACA SURAT KABAR, MENGIKIS PENASARAN TERHADAP BERITA-BERITA YANG BELUM SEMPAT IA SELESAIKAN.

(Ketukan suara pintu terdengar) (Lampu berganti menyorot/fade in pada teras sedangkan cahaya di ruang tamu fade out)
(Ratih bergegas menuju sumber suara. Ia tampak kaget, namun ia melampiaskan rasa terkejutnya dengan memeluk seseorang yang hampir dua tahun tak ia temui)
RATIH
Syukurlah kau sudah kembali.
KIYANA
Hentikan (menepuk pelan lengan Ratih) pelukanmu bisa membunuhku.
RATIH
Maaf.. maaf.. (masih kegirangan) mari masuk.
KIYANA
Di sini saja. Aku hanya mampir sebentar.
RATIH
Kalau begitu duduklah (menunjuk kursi di teras)
KIYANA
(Menuruti permintaan Ratih)
RATIH
Bagaimana kau tahu rumah ini?
KIYANA
Tadi aku sempat ke rumah orang tuamu, mereka terlihat bangga saat memberitahu bahwa kau kini sudah berkeluarga.
RATIH
Oh ya? jadi mereka tampak seperti itu saat mengatakannya.
KIYANA
Iya, kurang lebih. Mengapa kau tak memberi kabar bahagia itu padaku?
RATIH
Bagaimana aku bisa melakukannya saat aku tak paham dengan keberadaanmu.
KIYANA
Tak ada pilihan selain merantau ke negeri minyak waktu itu, Rat. Kebutuhan sangat mendesak, lebih sesak dari kesempatan memberitahumu bahwa aku akan meninggalkan tanah ini untuk sementara.
RATIH
Kau mengumpulkan uang demi uang yang lebih besar?
KIYANA
Masa depan perlu diperhitungkan.
RATIH
Hanya dengan uang saja kau mempertimbangkan masa depan?
KIYANA
Mungkin seorang kekasih pula (terdiam sejenak)
RATIH
Kau tidak tertarik dengan orang-orang di tempatmu mendulang pundi penghasilan?
KIYANA
Tidak, terlalu rumit.
RATIH
(terdiam)
KIYANA
Keresahanmu pasti sudah terkikis sejak kau menemukan waktumu. Dipersunting orang yang pasti kau dambakan. Bahkan kudengar sebelumnya, kau telah mempunyai peliharaan kecil.
RATIH
Kau juga akan menemukannya. Hanya masalah waktu saja.
KIYANA
Bagaimana kalau aku tidak punya cukup waktu? Di usiaku yang menjelang kepala tiga ini.
RATIH
Jangan cepat putus asa. Aku yakin setiap hari kau bertemu seseorang. Pasti salah satunya adalah orang yang kau idamkan untuk menjadi pendampingmu. Kau tinggal mencintainya saja.
KIYANA
(Tertawa) Kalau semudah itu, kenapa aku tak mencintai si Dirman, yang dulu sudah terang-terangan menyatakan perasaannya padaku. Atau si Salim yang menyiratkan ketertarikannya selang satu bulan kemudian.
RATIH
Oh iya, mereka. Kau tak membalas cinta salah satunya?
KIYANA
Bukannya aku tidak mau, tapi mana mungkin aku bisa mencintai orang yang sudah pergi.
RATIH
Pergi? Pergi menghilang dari hidupmu begitu saja?
KIYANA
Pergi, menghilang dari dunia ini, untuk selama-lamanya.
RATIH
Mati?
KIYANA
(Diam yang mengiyakan) (seperti mengenang masa dulu) Cara mati keduanya memiliki persamaan. Kematian yang terasa kurang menyenangkan.
Mayat mereka ditemukan di tempat umum dengan bekas luka tancapan selongsong peluru di tubuh.
RATIH
Barangkali mereka bepekerjaan sebagai seorang pencuri, jambret dan kejahatan sejenisnya.
KIYANA
Entahlah, aku belum terlalu mengenal mereka. Tapi dugaanmu itu bisa saja menjurus pada kebenaran. Dari ciri-ciri kematiannya, kemungkinan besar mereka tergolong orang-orang yang merugikan. Pantas saja negara gemas memberangusnya.
RATIH
Kau menghendaki (menyetujui) kematian seperti itu?
KIYANA
Belum tentu. Rasanya terlalu terburu-buru untuk membuat keadilan. Kalau pun mereka penjahat sebaiknya tak langsung main tembak. Mentang-mentang kerah dekil diperlakukan semena-mena.
Jika saja mereka diberi kesempatan, mungkin mereka bisa menjalani hidup sesuai keinginan negara.
RATIH
Dan jika saja mereka masih hidup, mungkin kau masih dicintai oleh mereka.
KIYANA
Apakah menurutmu cinta itu tidak bisa memudar?
RATIH
Aku pun belum pernah membuktikannya. Tapi yang kutahu cinta itu bisa dibagi
KIYANA
Kau sedang melakukannya?
RATIH
Aku yang sedang diperlakukan seperti itu.
Astaga.. kau belum tahu jika aku bukan satu-satunya perempuan di dalam rumah tangga ini
KIYANA
Kau dimadu?
RATIH
Tak perlu kuperjelas lagi bukan.
KIYANA
Tapi bagaimana kau bisa menerima itu? Bukankah permaisuri di negeri ini sudah mendesak sang raja untuk membuat aturan satu banding satu.
RATIH
Aturan hanya sebatas aturan. Dengan kata lain ia dibuat untuk dilanggar. Lagian, kurang kerjaan sekali jika negara turut mencampuri urusan pribadi.
KIYANA
Jadi, itu benar keputusanmu sendiri?
RATIH
Bukan aku sepenuhnya, orang tuaku yang melewati batas. Kurasa negeri ini belum mempertimbangkan kekhawatiran orang tua terhadap anak perempuan. Perempuan yang sudah menginjak usia dua puluh lima tapi tak kunjung menemukan pendampingnya.
KIYANA
Jadi, itu pula yang menjadi kekhawatiranku.
RATIH
Setiap orang menjumpai takdir melalui jalan yang sudah dipersiapkan. Dan setahuku, setiap makhluk diciptakan untuk berpasang-pasangan, termasuk juga kau.
KIYANA
Tapi kau juga pasti tahu kan, hati tidak sepenuhnya berada dalam kendali kita, ada campur tangan Yang Maha Kuasa. Yang membolak-balikkan segalanya. Dan bukan berarti kita bisa jatuh cinta begitu saja.
RATIH
Jika perasaan itu belum ada, kau hanya perlu menunggunya tumbuh. Dan jika rasa itu sudah tumbuh, kau perlu merawatnya sebaik mungkin.
Yang pasti, takdir itu tak mungkin ingkar. Tak perlu menyesuaikan waktumu dengan waktu orang lain. Jadi sabar saja.
KIYANA
Sabar? Sampai kapan?
RATIH
Sampai kau sudi dicampuri.
KIYANA
Maksudmu?
RATIH
Kau kan yang mengatakannya tadi. Harus ada campur tangan.
KIYANA
Negara? atau Yang Maha Kuasa?
RATIH
Dua-duanya mungkin bisa.
KIYANA
(Sedikit amarah) Kau ini tak membantuku menemukan titik terang malah semakin menggiringku kepada kesuraman.
RATIH
Aku pun tak tahu, itu di luar kemampuanku. Kau pikir aku ini siapa!
(Hening)
RATIH
Barangkali kau butuh perantara.
KIYANA
Tak seperti dirimu, aku sebatang kara. Menurutmu siapa yang akan menjadi perantaranya?
RATIH
Aku.
KIYANA
Kau?
RATIH
Apakah berarti kau meragukanku?
KIYANA
Bukan. Tapi aku takut.
RATIH
Kau takut soal apa?
KIYANA
Aku takut orang-orang yang akan kau tujukan kepadaku nanti tubuhnya tertembus peluru, seperti dulu. Sejak rangkaian kejadian serupa itu, aku menjadi berpikir: mungkinkah aku dikutuk atas cinta atau mungkin salah satu dari mereka memang jodohku sedangkan mereka sudah tiada.
RATIH
Kau merasa bersalah atas kematian mereka? Kau pikir mereka mati karena mencintaimu? Bahkan kau tidak berpikir kalau mereka benar-benar penjahat.
KIYANA
Cukup, Rat. Rasa bersalah itu timbul entah apapun alasan mereka terbunuh, entah siapapun mereka. Rasa bersalah itu pula yang menjadi pendorong terkuat bagiku untuk beranjak dari negeri ini.
RATIH
Jadi kau berusaha memupuskan rasa bersalah itu di negeri orang?
KIYANA
Wajar bukan, kalau manusia menginginkan kedamaian.
RATIH
Kini kau sudah kembali. Anggap saja perasaan terburukmu itu telah kau tanggalkan di sana. Percayalah peristiwa itu takkan terulang.
KIYANA
(mengangguk, menyiratkan persetujuan)
Jadi siapa gerangan yang akan kau hadapkan padaku?
RATIH
(terkekeh) kau sudah tidak sabar ya..
Sepertinya saat ini aku belum bisa memberitahumu
KIYANA
Mengapa tak sekarang? sebut namanya saja sudah cukup.
RATIH
Tunggu saja. Sabarmu masih perlu kau gunakan.
KIYANA
Kita harus menentukannya, Rat. Sebelum dunia diliputi gerhana.
RATIH
Ketakutanmu sungguh berlebihan. Baiklah, besok saja.
KIYANA
Lantas dimana kita akan melakukannya?
RATIH
Di taman bunga. Tempat biasa dulu kita menghabiskan malam berdua.
KIYANA
Baiklah. Kunantikan kau di sana..
Sepertinya hari sudah petang, Rat. Aku harus pulang.
RATIH
Kau ingin segera pulang bukan karena takut diculik hantu kan? (berkelakar)
KIYANA
Husssh..
(Pergi)
RATIH
Hati-hati..

KIYANA PUN PERGI. SEMENTARA RATIH ENYAH DARI PERSINGGAHANNYA DAN MASUK KE DALAM RUANG SEMULA. ASIH TAMPAK SEDANG MENGGENDONG SEORANG ANAK BAYI DAN RATIH SEDANG MENGHIAS DIRINYA.
ASIH
Siapa tadi?
RATIH
Teman lama
ASIH
Kalian saling melepas rindu?
RATIH
Lebih dari itu.
ASIH
Aku tidak pernah melihatmu memeluk anak ini sehangat itu.
RATIH
(Tersenyum) Anak itu sudah nyaman di pelukanmu.
ASIH
Gelak tangisnya belakangan ini seperti menyiratkan rindu kepada bapaknya.
RATIH
Masih ada kau yang lebih terampil menenangkannya daripada aku.
ASIH
Konon, kasih sayang seorang anak sudah terbentuk sejak ia berada dalam rahim ibunya.
RATIH
Kau bermaksud untuk mengatakan jika kasih sayangku padanya kala itu kurang daripada pemberian kalian.
ASIH
Bukan, (dengan rasa bangga) Aku hanya bersyukur menyadari bahwa anak ini sudah mencintaiku sejak kandungan, seakan akan lebih dari ibu kandungnya sendiri..
RATIH
(seketika meletakkan cermin di meja, lalu menatap asih sembari tersenyum)
ASIH
Ada apa ?
RATIH
Kau tau, hal yang paling menyedihkan hidup menjadi seorang perempuan bukan ketika dia tidak mampu memiliki anak. Tapi hal yang paling menyedihkan adalah ketika nilai perempuan diukur berdasarkan hal-hal di luar kendali dirinya, seperti jodoh dan juga kemandulan.
ASIH
(merasa tersinggung) Maksudmu aku perempuan yang menyedihkan ? Selama ini kau diam karena menahannya sejak lama dibenakmu, bukan ? Kau bisa dengan mudah berkata begitu karena kau perempuan yang mampu untuk hamil !
RATIH
Kau bisa lihat, akupun perempuan yang menyedihkan. Untuk terbebas dari julukan perawan tua, aku rela untuk menjadi madu Namun ternyata tidak ada bedanya sekarang. Menjadi perawan tua ataupun menjadi seorang madu. Aku tetap menjadi perempuan menyedihkan hanya saja menjelma ke dalam bentuk yang lain.
ASIH
Kau menyesali pernikahan ini ?
RATIH
Memangnya kau tidak menyesalinya ?
ASIH
Setidaknya pernikahan ini menjadi sempurna setelah kehadiran seorang bayi di rumah ini.
RATIH
Lalu mengapa kau cemas dengan ceracau Surti dan kawan-kawannya bahwa istri dan madu tinggal dibawah satu atap ?
ASIH
(terdiam)
RATIH
Kau menyadarinya bukan ?. Lihat ! bahkan setelah memiliki anak ini. Pernikahan yang tidak dianugrahi keturunan sama menyedihkannya dengan pernikahan yang memiliki madu. Dan kedua kondisi itu tetap menjelma menjadi bahan gunjingan semua orang.
ASIH
Bukankah kita sudah terbiasa mendapat gunjingan sejak meninggali rumah ini? Kita hanya perlu menahannya bukan.
RATIH
Kalau begitu mengapa dulu kau tidak menahan saja semua gunjingan atas kemandulanmu ?
ASIH
Apa salahnya menginginkan seorang anak ? Kami tidak pernah memaksamu. Ini semua kesepakatan diantara aku, Mas Muhdjat dan juga kau! Mengapa kau baru berontak sekarang ?
RATIH
Kau tidak mendambakan seorang anak. Kau mendambakan kesempurnaan pernikahan. Sedangkan aku menikah bukan atas paksaan kau dan Mas Muhdjat, tapi aku dipaksa oleh kungkungan nilai bahwa perempuan seusiaku harus menikah. Dan mengapa aku baru berontak sekarang ? karena aku baru menyadari satu hal.
ASIH
Menyadari satu hal?
RATIH
Tidak ada hakim selain diriku yang bisa memutuskan apakah aku benar atau salah.
Maka aku memutuskan untuk pergi.
ASIH
(terkejut) Apa ? Pergi ?
RATIH
Kau senang bukan ?
ASIH
Bukan. Kita harus membicarakannya terlebih dahulu dengan suamiku….. em, maksudku suami kita har…
RATIH
(memotong) Kebodohan ini harus segera diakhiri. Kita tidak bisa hidup seperti ini terus, bukan ? Irman, anak kita, bukankah hanya itu yang selama ini kalian inginkan dariku.
ASIH
Tak ada maksud begitu sedikit pun, Rat. Dia benar-benar mencintaimu.
RATIH
Ah sudahlah.. kau tak perlu melipurku. Ia seharusnya sudah cukup memilikimu saja yang jelas-jelas lebih muda.
tenangkan pikiranmu, Sih. Aku tak menyalahkan siapapun. (jeda)
nanti malam aku akan keluar.
ASIH
Bukannya aku melarang keinginanmu.
Kau tak izin dulu dengan Mas Muhdjat?
RATIH
Memangnya harus berapa lama lagi aku menantikannya.

Suara adzan terdengar (Lampu meredup) disahut musik pengantar ke babak selanjutnya

(MALAM, DI TAMAN BUNGA) KIYANA CAMPUR ADUK. BAHAGIA DIRASAKANNYA LANTARAN SEBENTAR LAGI AKAN DIPERTEMUKAN DENGAN CALON KEKASIHNYA. MENGINGAT KAWAN LAMANYA MENJADI PERANTARA, IA TAK PERNAH MEMILIKI BAYANGAN BURUK MENGENAI SANG PRIA

KIYANA
Akhirnya penantianku hampir menemui ujungnya. Meskipun lelaki itu nantinya belum tentu menjadi kekasih, atau bahkan suamiku, paling tidak aku sudah mencari jalan. Terkadang aku ini merasa terburu-buru, tapi memang benar adanya jika aku terus diburu waktu. Kukira tak ada orang yang bisa menguasai usia.
Ah.. aku bisa membayangkan jika lelaki berparas tampan dan tidak suka aneh-aneh. Namun, aku harus bersiap untuk segala kemungkinan. Tentu saja aku tidak bisa langsung menerimanya. Begitu juga dengan dia. Ini kan sebatas pertemuan pertama.
Tetapi jika ia benar-benar tertarik padaku, aku pun harus lebih waspada. Jangan sampai dia mencintaiku hanya karena uang yang kutumpuk selama di negeri orang. (Ratih hadir tanpa sepengetahuan Kiyana)
Ratih pastikan kau tak menceritakan perihal diriku secara berlebihan padanya. Dan usahakan kau membawakan aku lelaki terbaik.
RATIH
Kiyana!
KIYANA
(Terkejut) Sialan!
RATIH
Kau bahagia atau sedang gila?
KIYANA
Aku pun merasa kesulitan untuk membedakannya.
RATIH
Maaf menunggu terlalu lama
KIYANA
Kau berdebat sengit untuk memeroleh izin ke tempat ini ya.
Jadi, dimana dia?
RATI
Dia siapa?
KIYANA
Kau tak lupa kan mengapa kita berada di sini?
RATIH
Kau harus lebih sabar lagi, karena dia akan terlambat.
KIYANA
(kesal)
RATIH
Apa kau tak ingin mengingat kenangan setelah dua tahun tak bersua. Kita sering menyisakan kesempatan untuk singgah di taman ini bukan. Seakan tempat ini memang milik kita berdua. Kau lebih banyak bercerita dan aku pun mendengarnya. Seperti itu seterusnya hingga aku ingin suatu saat kita bergantian.
KIYANA
Tapi kita kekurangan durasi kali ini, Rat. Bahaya selalu mengintai kita.
RATIH
Aku sudah mempersiapkan semuanya untuk kejujuran ini (merogoh pistol dari dalam tasnya) Ini untuk berjaga-jaga jika saja orang jahat mengancam.
KIYANA
Kau bisa dapat barang ini darimana?
RATIH
Kau tak perlu tahu
KIYANA
Baik, lantas kau mau cerita jujur soal apa?
RATIH
Yang pertama, lelaki yang kita janjikan kemarin takkan pernah datang padamu
KIYANA
Jadi kau berbohong
RATIH
Aku berbohong untuk kemarin, tetapi tidak hari ini
(Berdiri menjemput bunga-bunga yang menawan)
Kau tahu apa yang ada di dalam barang itu? (menunjuk pistol)
KIYANA
Peluru?
RATIH
Ada rahasia lain di dalamnya. Dan kau harus mengetahuinya sebelum kita melangkah lebih jauh.
KIYANA
Aku tak mengerti apa maksudmu?
RATIH
Sejak dua tahun lalu, barang itu, hanya mengeluarkan dua peluru saja. Selanjutnya kau pasti menebak siapa yang menggunakannya, orang itu adalah aku.
KIYANA
Kau menggunakan barang itu, tapi untuk apa?
RATIH
Demi melindungimu dari sekian pria yang pernah kau ceritakan.
KIYANA
Maksudmu Dirman dan Salim?
RATIH
Ya.. pria yang kau ketahui telah mati itu
KIYANA
Jangan-jangan kau yang..
RATIH
Iya! benar! aku yang melakukannya. Aku hanya ingin menjauhkanmu dari hal-hal yang menyakitkan.
KIYANA
Apa kau yakin jika mereka akan mencelakaiku?
RATIH
Aku yakin
KIYANA
Tapi mengapa kau membunuh mereka?
RATIH
Ada kepentingan yang lebih besar daripada mempersoalkan kematian mereka.
Barangkali kau benar jika mereka mati karena telah jatuh hati padamu. Dan kau tak perlu merasa bersalah dengan kematian mereka, Rat.
Kuberitahu satu hal padamu. Cinta, tidak bisa terhapus sepenuhnya. Saat seseorang yang kau cintai menghilang, mungkin kau mengira jika perasaan itu juga akan mengikutinya. Tapi ternyata tidak, ia hanya bersembunyi. Hasrat itu akan menguasai ketika seseorang itu telah kembali ke hadapanmu.
KIYANA
Aku semakin tak mengerti dengan perkataanmu itu.
RATIH
Aku hanya ingin semua orang tahu bahwa kau hanyalah milikku seorang. Jadi, takkan kubiarkan siapapun memilikimu.
Terimalah bunga ini sebagai bentuk kejujuranku padamu.
KIYANA
Tidak mungkin
RATIH
Ayolah.. kau hanya perlu terbiasa dengan kenyataan ini.
KIYANA
(memegang pistol) Tidak Ratih! tak kusangka cinta telah membutakan nuranimu. Kau harus tahu seberapa jelas dosamu di akhirat. Kau mesti mempertanggungjawabkan perbuatanmu di sana. (LAMPU BLACKOUT) (dor!!!)

SELESAI

Ditulis: M. Nur Iskandar (dibersamai Dona Sabatina)

Serba-serbi:
– Gerhana Matahari Total terjadi pada tanggal 11 Juni 1983. Imbauan pemerintah untuk warga agar tidak menyaksikan peristiwa langka itu secara langsung dinilai terlalu berlebihan. Dilansir dari detikcom, aparat keamanan menyita puluhan alat teropong yang akan digunakan warga untuk melihat gerhana.
Kendati demikian, tidak dipungkiri jika sebagian masyarakat menganggap gerhana matahari adalah bentuk kemurkaan Sang Bhatara Kala kepada dunia hingga memakan matahari atau rembulan sehingga tidak muncul sinar atau cahayanya.
– Pada 1983, rezim Orde Baru menerapkan kebijakan yang ditakuti para penjahat bahkan preman. Kebijakan itu ialah tembak mati di tempat. Mereka bisa mati kapan saja oleh penembak misterius sehingga disebut petrus.
Dikutip dari historia.id, Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) mencatat puncak tertinggi korban petrus terjadi pada 1983 dengan 781 orang tewas.
– Pemerintah orba pernah membuat instrumen berupa Peraturan Pemerintah No 10 Tahun 1983 yang melarang aparatur sipil negara (ASN) untuk berpoligami. Aturan tersebut telah direvisi melalui Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990. Sehingga kini ASN telah dapat memiliki istri lebih dari seorang dengan ketentuan tertentu.
Dulu, Siti Hartinah, istri Presiden Soeharto menilai monogami adalah harga mati, seperti dilansir dari historia.id. Tien –sebagaimana sapaan akrabnya – sangat getol memperjuangkan UU Perkawinan. Di tingkat legislatif, wacana undang-undang tersebut memantik perdebatan dan pertentangan yang ujung-ujungnya mentok.
Tien lantas bergerak dari jalur istana untuk mendorong suaminya agar memberikan ruang bagi perempuan melalui UU Perkawinan.
– Terkait poligami, Syaikh Dr. Abdullah As Sulmi menjelaskan, “Hukum asalnya, menempatkan dua istri dalam satu rumah tidak mengapa, namun menempatkan dua istri dalam satu kamar maka itulah yang terlarang,” dikutip dari muslimah.or.id.
Namun jika istrinya mempersyaratkan kepada suaminya agar tidak ditempatkan bersama istri yang lainnya, maka tidak boleh menempatkan di rumah yang sama.
Jika istri tidak mempersyaratkan demikian, maka perlu melihat kepada ‘urf (adat kebiasaan setempat). Jika ‘urf menilai tidak mengapa seorang wanita tinggal bersama madunya, maka ketika itu tidak mengapa. Namun jika ‘urf menilai hal tersebut tidak baik, namun masing-masing istri harus ditempatkan di rumah tersendiri, maka tidak boleh sang suami menyelisihi ‘urf tersebut.

Durasi

terjebak di suatu sore yang hujan,
seorang perempuan menonton drama
india di televisi. pada rambut memutih itu,
lelah mengendap: selama beberapa tahun
berjalan dalam jarak antar kota, di apotik
terlaris seantero kota raya. beberapa
tahun yang terisi oleh kehadiran dan
kehilangan. seperti sembilan bulan yang
terjadi dua kali: kelahiran dua orang lelaki
yang sendiri. dan, suami yang pergi ke alam abadi. ada kesedihan, kembali
dalam eluh mata yang samar. mungkin
kehidupan terulang pada tayangan televisi: bahagia dan pedih dalam kendali durasi

2020

Menimpal Tua

halaman berkerut dan
aku menimpal tua
yang terus tumbuh
di rumah tertinggal

ada rumput bergoyang
sebelum leher merek
koyak dan dibakar
matahari yang akan

pergi ke pukul-pukul
yang jenuh. hari-hari
menghadap ke kanan
sarat rencana yang kerap

tak siap. mungkin menanam
bibit durian meski bunga
mengembang di kepala
dan hidupku menyiram

senyuman ibu -dan
memujanya- seperti berhala

2020

Setiap

setiap hari
setiap orang
setiap kembali
setiap pulang
setiap rumah
setiap surga

kuburmu adalah pertanyaan
butir tanah yang kau keluhkan
saat menghitungnya

bahagiamu timbul tenggelam
di laut lepas kehidupan
hidup yang tak disumpal waktu

abadi
abadi
bahagia
bahagia

kau di rumah
kau di surga
kau dalam peluk tuhan

2020

Cinta Jalur Kecoa

kecoa menggerogoti filter
yang hangus oleh perbincangan
kita yang terpotong tentang cinta
dan cintaku hadir melalui jalur kecoa
yang tersembunyi di balik papan selokan,
di tapak kakinya yang sunyi, tanpa aroma,
menggaris dahi orang-orang yang takut
menghadapi perutnya di tengah kedai
cintaku timbul dengan kelemahan
yang menjenuhkan, maka kerap
aku lari diburu ketakutanku
sendiri, tanpa kata cinta
yang sempat padamu
hanya padamu

2020

Beberapa Malam Para Kaki Lima

puluhan mobil mengular
dari pom bensin dan di tikungan
menjelang kampus seni
para kaki lima
digigit dirinya sendiri

malam sedang menjadi mesin
asap tak menemukan bentuk
mungkin sempat dibidik
lampu kota yang tiap kali
tak diberi aba-aba

remang
bising
bau

pecah di lubuk
para kaki lima
yang sibuk menerka
langkah pelanggan
dengan tunduk

2020

Empat Mata yang Menjauh

negeri ini sudah merah
dan kita nantikan putih yang pulih
di atas 24 jam yang gentar

tol masih berdarah
harum peluru menguar ke waktu

dan kita saksikan
empat mata menjauh
sumpah-serapah yang menjulang
dan kursi yang tak menghendaki
siapapun pulang

kita lepas ke pantai
membidik laut dan langit yang cemas,
yang lemas setelah biru

negeri ini sudah merah
dan kita nantikan putih di tulang
yang rapuh

2020

Melalui Uban-uban Itu

melalui uban-uban itu,
aku menelusuri setiap tubuh
kecilku seperti saat petang menjelang.
tangan mungilku belum mampu
menjangkau tombol lampu,
dimana kau mudah
menyentuhnya.
di sana kau
memadamkan
ketakutanku. aku pula,
yang terkadang mencabut
putih di belantara hitam kepalamu
dengan janji: kantongku akan menebal
saat aku berkumpul kembali dengan
para peramu masa depan. dan tiap
kematian listrik yang sejenak
di dinihari, aku seperti tak
ingin melewati gelap
yang hadir tanpa
uban-uban itu.

2020

Kabah di Ruang Tamu

Pemandangan ruang tamu masih hambar seperti biasanya. Tembok yang polos, dengan putih yang mulai memudar. Bingkai foto telah kulucuti karena malu melihat diriku sendiri di masa lalu. Beberapa sofa sudah kehilangan tumpuannya. Kuganti kaki mereka dengan potongan kayu.

Aku jenuh melihat pemandangan ini. Namun, aku tak bisa berbuat lebih banyak sejak menggunakan tongkat ini. Paling mondar-mondar antar kamar. Atau keluar sebentar merasai panasnya pagi dan membolak-balik pakaian saat siang nanti, bahkan mengentaskannya.

Tapi di sudut ruang tamu ini, ada sesuatu yang baru kusadari. Seperti ka’bah. Bentuknya mirip: hitam, kotak, tampak kokoh. Segera kutelepon anakku yang sedang bekerja di kantor berita.

“Ada ka’bah di rumah kita,” ujarku.
“Ka’bah hanya ada di Mekkah, Pak,” balas anakku.
“Mungkin Mekkah sedang berkunjung ke rumah kita.”
“Duh, sebentar ya, Pak. Kita bicarakan nanti kalau aku sudah merampungkan pekerjaan.”

Telepon tertutup dan ruang tamu kembali sunyi. Kupandangi Ka’bah yang indah itu. Kuraba setiap tubuhnya yang tak rata, gelombang kecil yang menggetarkan, seperti ada hal magis yang merasuk dan menenangkan. Di langit-langitnya ada lubang berbentuk persegi panjang yang tipis.

Anakku pasti akan terkejut saat melihat ini. Andai saja aku tak menghubunginya tadi. Pasti ini benar-benar bisa menjadi kejutan. Terlebih ia jarang sekali pulang ke rumah. Harus ada alasan kuat untuk menyeretnya ke tempat yang telah membesarkannya. Tapi seperti biasa, ia sulit menghiraukan perkataan orang tua. Bahkan untuk hal-hal besar, seperti Ka’bah di sudut ruang tamu ini. Aku tak tahu malam ini ia akan menginap di mana lagi atau memutuskan pulang menyaksikan Ka’bah ini.


“Apakah di kantormu sana sudah malam,” tanyaku dari seberang telepon.
“Tentu saja. Kita kan masih satu daerah, Pak,” balasnya.
“Jadi, kamu akan pulang melihat Ka’bah di ruang tamu kita?”
“Baiklah, aku pulang. Aku akan melihat Ka’bah itu.” tutupnya dengan nada sedikit kesal.

Awan mendung pecah seiring telepon yang terputus. Irisan hujan telah mengetuk genteng, menjatuhkan kotoran-kotoran kecil yang menempel di sana. Ada angin yang cukup merdu. Aku memilih bersiaga di ruang tamu dan membiak gorden yang sebelumnya menutupi jendela. Aku ingin tahu seberapa deras hujan ini mengguyur anakku di jalan.

Tak lama kemudian, sinar lampu kendaraan mulai menembaki rintik-rintik hujan di luar pagar. Anakku datang. Tidak. Dia pulang. Anakku tampak tak mengenakan pelindung seperti mantol atau semacamnya. Dia basah kuyup dan tampak gemetar kedinginan.

“Keringkan tubuhmu, Nak. Dan segera ke sini,” teriakku sedikit payah saat anakku sudah menimbulkan dercit pintu.
“Mana Ka’bahnya, Pak?,” tutur anakku. Dia tak mengeringkan tubuhnya dan memilih langsung tiba di ruang tamu.
“Itu, Nak,” balasku menunjuk Ka’bah di sudut ruang tamu.
“Celengan. Itu celengan, Pak. Bentuknya seperti Ka’bah,” jelasnya.
Aku mulai ingat dari mana benda itu berasal. Aku mulai ingat bahwa aku kerap tak ingat.

“Kenapa dia bisa ada di situ?,” sahutku pura-pura tak tahu.
“Tidak tahu. Mungkin Bapak yang membelinya.”

Apakah Solo Hujan

“apakah solo hujan?”
adalah pertanyaan yang macet
ketika angin mengajak ribut
merutuki pohon-pohon hingga tumbang
ke kabel-kabel, atau ke rumah

listrik padam
dan sinyal ikut redam

aku belum tahu apakah solo
hujan atau tidak
aku belum tahu apakah pesan itu
sudah kauterima

hanya waktu yang berhenti
berputar di hadapanku

aku belum tahu apakah angin
juga sempat membuatmu ketakutan

2020

33

tiap peringatan memecah kesibukan
ia tahu akan selalu diterima
selepas kucuran keran. di tempat
yang sempat, dan tepat

ia mulai menanggalkan waktu
dan merapatkan irisan kayu
di pergelangan tangan:
33 yang bulat dan cokelat

ia menyebut Ada
dalam setengah basah,
dengan hitungan yang terkadang
tak sampai.

2020

Matahari di Taman Kesenian

pameran macet di kepalaku
dan aku mengingat Hawa yang
terpecah menaiki seekor kuda jepang
di bagian belakang. matahari terbit
dari jalan turunan taman kesenian.
kumpulan lagu yang merdu
diputar menjadi suaramu,
tanpa durasi –mendekatkan abadi.

kau dan aku kerap berhenti
di kamar pesan. suatu kesenangan
yang hampir jadi. aku terus melempar
ingatanku, yang kautangkap dengan
sempurna. barangkali kau akan
jenuh dan sibuk menjalankan
cara-cara agar bintik merah
di wajahmu meletus dan hilang.

tapi seketika tak ada
tanda biru yang membuat
kau dan aku melenggang jauh.
dan aku hanya menyaksikan
kabar satu menit dibelah separuh:

kau tampak lincah ketika
berlarian di batas ombak. sesaat
seperti laut atau langit yang sesekali
menunduk pada timbangan dan
cemas. angin menumpas terik
serta mengibarkan senyum
yang menyejukkan penjuru pantai.

lalu di rimba teh perbatasan,
ada tangan lain yang mengajakmu
lebih masuk. dan aku tak perlu tahu
apa yang tertuju padaku.

2020

Merangkaki Nasib

hujan terhenti
setelah doa kita basah
dalam rona merah kedai
yang dingin,

jalanan tanpa pejalan
sepi mungkin akan tamat
di pergantian jumat
saat pedagang lewat

kita tak mengerti
mengapa begitu dekat
antara malam dan pagi

tirai waktu berderai
meski masih gelap

mungkin kenyang kita
segera habis oleh berita
yang diceritakan kembali

virus sudah tak lagi
mencemaskan.

kota ini:

orang-orang yang mulai
bernapas lega dan merangkaki
nasib yang tak sederhana

2020

Rahasia Merah

Aku tak tahu mengapa dia memilih keramik warna merah. Aku pun tak sempat menanyakan mengapa lantai itu tak diberi warna lain saja. Aku hanya bertanya-tanya pada sendiri. Mungkin sesekali terlintas niat untuk menanyakan tapi urung, karena melakukan hal itu seperti orang yang meneriaki angin. Menuju kekosongan. Mengapa seperti ini? Lantai merah ini, mengapa dia memilihnya.

Mungkin dia memasang keramik merah agar mudah untuk menemukan tikus dan kemudian membunuhnya. Sebab, para tikus itu selalu membangkang. Mereka enggan mendengar perkataannya. Enggan dipelihara dan justru menjadi pengganggu abadi. Barangkali ia pilih lantai berwarna merah agar tikus tak bisa menyamar. Kulit tikus biasanya abu-abu, tentu sangat kontras dengan lantai ini. Tapi kemungkinan adalah kenyataan yang bengkok. Bisa saja.

Suman sedang memenuhi hobinya beberapa hari terakhir, di kamar berlantai merah itu. Setiap ia mengajak seseorang ke sana, ia selalu mengucapkan sesuatu dengan cara berbisik dan mengakhiri kalimatnya, “Jangan bilang siapa-siapa. Hanya kau dan aku yang tahu.” Seperti sebuah rahasia yang disampaikan. Namun di lain hari, ia melakukan hal yang sama kepada orang yang berbeda. Begitu seterusnya dilontarkan kepada semua yang hadir di kamar itu. Lalu apa arti rahasia jika semua orang diberitahu?

Suman mungkin lupa pada apa yang dikatakannya. Tapi waktu harus berjalan lekas, dan ia sudah terbiasa melakukan hal yang sama. Kebiasaan yang sudah menjadi tak berharga. Bukankah seseorang menganggap sesuatu itu berharga ketika ianya jarang, atau tak didapatkan dengan mudah.

Namun tak hanya lantai, segala unsur kamar itu dipenuhi warna merah. Oleh karenanya, Suman sediakan cat tembok, pensil warna, spidol, cat lukis, semua hal yang bisa menghasilkan merah. Entah mengapa orang yang memasuki kamar itu mau dikenai warna itu. Dan sepertinya masing-masing dari mereka menerimanya dengan lapang. Sebab, mereka menutup mata seolah menikmati.

Terkadang warna merah itu mengalir bersama cairan yang keluar dari tubuh mereka. Bercak-bercak darah, menjadi warna yang menyatu dengan lantai, tembok, dan furnitur lainnya. Suman sepertinya suka warna merah. Dan mewarnai segala hal dengan merah. Ia sudah mengatakannya kepada orang-orang yang telentang di kamar itu, termasuk kepadaku, baru saja.

2020

Tiga Hari Ini, Dia Terbaring dan Tersenyum di Kolong Ranjang

Alarm berdering dari ponsel yang daya baterainya hampir habis. Pukul 8 pagi, ia berbunyi seperti kokokan ayam, berkali-kali, selama 30 menit –yang akhirnya membuatku tersadar kembali. Ternyata masih ada pula dunia ini. Dunia tanpa matahari. Selama 3 hari aku tak membiarkan sinar menembus kamarku. Kututup jendela dengan gordin rapat-rapat. Kubalut satu genteng yang tembus pandang itu dengan koran berlembar-lembar. Pada celah-celah ventilasi, kutempeli poster bergambar pemain kesebelasan sepakbola. Dan jadilah kamar ini ruang yang gelap nan pengap.

Selama 3 hari tubuhku selalu gemetar setiap bangun pagi. Bukan semacam rasa lapar atau haus meski tak makan maupun minum puluhan jam. Rasa takut memang mengalahkan perasaan lainnya.

Terdengar ketukan di pintu kamarku. Aku pun lekas bangkit dan membukanya dengan hati-hati. Kubuat pintu menganga sedikit, dan aku melihat kucing membawakan sepiring makanan berupa nasi telur, lengkap dengan air putih.

“Aku tak mau. Buat kau saja,” bisikku. Namun kucing itu membalas dengan bahasa Meong. Kemudian ia terdiam sejenak, lantas pergi. Di rumah ini, memang ada sejumlah kucing, tepatnya 6 ekor. Semuanya kuberi nama ‘Kucing’. Salah satu kucing tadi mendapat jatah piket memasak untukku hari ini. Tapi sayang, aku sedang tak bernapsu untuk mengenyangkan perut atau melepas dahaga. Penolakan juga dialami dua Kucing lainnya dua hari sebelumnya.

Asal kamu tahu, Kucing, aku tak bermaksud menolak kebaikanmu. Hanya saja kekhawatiranku ini lebih besar dari apapun. Hari-hari belakangan, aku selalu ingin memastikan bunyi sirine mobil polisi tak terdengar sampai di rumah yang kita tinggali. Kau, juga yang lainnya, tak mungkin kulibatkan dalam perihal pelik ini.

Aku hari ini harus bekerja –meski di kamar. Aku tak perlu kemana-mana untuk bekerja. Tiap laptop terbuka, maka aku akan masuk ke dalamnya. Aku memilih menaiki Kursor berwarna putih, yang sering macet. “Sialan, jangan terlalu sering macet”.

Aku ingin cepat-cepat menyelesaikan tugasku dan berbaring. Tertidur dan tak ingin mendengar suara sirine. Tapi, Kursor, sepertinya kau sulit untuk diajak bekerja sama. Mana mungkin aku hanya mengandalkan tombol ketik, sementara kau tak bisa berbuat apa-apa.

“Sebentar, aku perlu istirahat. Kau menginjakku terus-terusan. Aku berjalan dari tempat tertutup ke tempat tertutup lainnya setelah satu per satu terbuka. Dasar orang tak sabar!” ujar Kursor.

Sikap Kursor itu sudah biasa, begitu juga sikapku. Tapi aku harus segera menemukan cara untuk menyembunyikan sesuatu yang dicari banyak orang.
“Bawa aku ke dunia cara-cara itu, Kursor!” pintaku.

Para nyamuk mulai bermunculan dari kolong ranjang saat siang menjelang. Mereka mengeluarkanku dari dunia Laptop dengan menggigit beberapa bagian tubuhku -tempat yang sekiranya menyimpan darah paling lezat. Lebih dari itu, perbuatan nyamuk itu adalah pertanda. Aku harus buru-buru menemukan cara dan melakukannya sebelum sirine terdengar, atau supaya polisi itu tak pernah tahu apa-apa tentangku. Tapi lagi-lagi nyamuk itu hanya ingin ikut menakutiku. Sebab setelah kutengok kolong ranjang, Dia masih tersenyum. Aku menjadi penasaran Dia memimpikan apa selama terbaring 3 hari di sana.

R

Pada Jumat malam, R berteriak. keras
mungkin ada sejumlah kata yang tegas
tapi tak jelas. seperti perintah kepada
seseorang agar ibunya ditinggalkan.

Tentu R, tentu. namun mengusir bajingan
tak semudah menghapus warna yang tak
disukai. dan barangkali parang belum
berarti bagi bocah 9 tahun yang
ditemukan berenang di sungai
merah pada pagi hari

2020

Hadiah Perpisahan

sudah kubilang padamu
jangan pernah sentuh pagar putih itu
atau bom akan pecah
kata-kata sudah pasti patah
setelah Indonesia Pusaka
mencapai penutup mata

tapi semua telanjur
dan jangan lupa, itu ulahmu

kabut yang jenuh memeluk pegunungan
benar-benar bertandang ke kota
bukan sebagai rambu-rambu jalan
atau pertanda henti hujan

kau harus tahu bahwa asap
belum tentu sampai pada abu

saat itu orang-orang menghadap
bahkan mengejar kiblat
barangkali Tuhan memanggil
atau dicari dalam bongkahan batu

kau harus kembali dari Timur
agar napasku terbuang
sekadar menuturkan panjang umur
kau mesti membelah blokade di jembatan:
mereka yang lelah seusai parade
dan terimalah “bajingan!” yang lembut
sebagai hadiah perpisahan

2020

Di Jalan Kelas Dua

aku ingin menemuimu.
yang setiap kali menyambut
menjumlah angka, memeriksa etalase
tapi di suatu jalan kelas dua, di kota ini,
hujan mulai menata diri
dan tahu kapan, oleh siapa diantar.
karenanya, pedestrian yang dihidupi
warung makan, basah. selain orang
yang tegap menantikan reda.
ketika langit sedang menipis, digaris
kabel-kabel mentiung, menyambung
dari tiang ke tiang.
dan aku masih tak mengerti mengapa
terhenti di jeda ini. aku menerka
Tuhan di antara tunda
dan ketepatan

Boyolali, 2020

Suara

aku berjalan mendekat dan berbunyi
seolah salah satu angin itu memberi
harapan bahwa suara akan memecah
melewati gerbang dan ventilasi gedung
angin itu meyakinkan bahwa suara pun
bisa duduk di kursi atau meja
jika ia tak peduli adab mesti dijunjung tinggi
dan aku masih berjalan dengan suara
riuh-rendah, aku mendengar suara
yang tercampur menyentuh jalan tak beratap
lalu angin itu berpesan tiada yang tak dapat
digebrak bahkan langit yang biru
atau langit nun jauh di atasnya
aku mulai setengah berlari menyeberangi
angin yang seakan terhenti menjadi titik-titik
tanpa warna, mungkin tembus pandang
yang teriknya tak dapat tersangkal saat
aku bersuara di dalamnya
aku melontarkan suara dan menerimanya
di pagar yang dikawal banyak pembatas manusia
aku mendesak jauh lebih masuk dan bersuara
angin itu mengantarkan bunyi padaku
keras dan singkat seperti guntur
tapi aku tahu muasalnya kali ini
aku berkutat pada asap yang menyelubung
dan terus bersuara sesekali meraba
apa yang sebenarnya tak dapat tersentuh
aku mengira matahari tetiba bersembunyi
tapi angin itu berjanji memenuhi dadaku
saat aku tak mendengar suaraku sendiri

2020

Warna

langit memutih
barangkali biru
jatuh bersama hujan
menabrak hijau dedaunan
dan telentang di tanah kecokelatan
sesampainya petang
merah dan kuning bercampur
mengganti bentang cakrawala
meski hujan tetap jatuh
menyala berkilauan
yang tak mampu
ditinggalkan pelukis
pada kanvasnya
betapa ganjil warna Tuhan
takjub dari segala ketakjuban

2020

Di Gedung Tua, Orang itu Hilang Setelah Gerbang Kedua

aku ragu Fisip dapat mengulur durasi
meski kau meminta menghentakkan kaki
tiga kali di tangga dan memukul tiang
dengan jumlah yang sama

tapi sesaat malam di jembatan menjadi putih
dan mudah untuk diseberangi
setelah itu mendung benar-benar pecah
hujan turun dan terpotong dedaunan
menjadi berlian di sebuah taman

kau tiba-tiba menyukai pekerjaan baru
merapikan kursi, duduk membicarakan waktu:
apakah masa lalu pernah sampai di detik ini
pertanyaan itu selalu menjadi bunyi yang singkat
namun gema-nya seperti tak akan tamat

kau bangkit dan berujar, aku boleh mengikutimu
mungkin nanti kita tak hapal alamat sehari-hari
tapi kau berjalan ke utara, lekas, terlampau segera
dan menghilang setelah gerbang kedua terbuka

2020

Trotoar

ia hentikan diri di trotoar
dan duduk di kepungan
lampu-lampu khas kota tua
yang memencar

ia tunduk sampah
yang tak berakhir
di tempat sampah

atau pembuangan itu
terlalu mewah
seperti batu peresmian
atau plang pemilik tanah

ia tatap bank negara,
kantor pengiriman, lapak-lapak
dalam satuan warna
dan ia belum ingin tahu mengapa

ada puluhan bola
mungkin pualam yang hanya
diduduki sementara, untuk dibidik
pada senyuman paling sempurna

jalur khusus yang tertanam
besi-besi yang dingin
sementara jalan pulang
belum memetik mata angin

Jogja, 2020

Asap

Sejak awal tahun, ia menyukai asap. Maka ia rutin membeli barang yang bisa menimbulkan asap. Asap yang diciptakan dari batang-batang rokok yang paling ia suka. Asap itu seperti mengeluarkan kata di setiap kemunculannya. Asap yang apapun bentuknya. Seringkali tak jelas bentuknya. Paling kentara, asap itu membentuk sebuah lingkaran yang punya lubang di tengah-tengah. Ia sengaja diciptakan.

Kata-katanya selalu dinantikan oleh pria paruh baya. Orang-orang memanggilnya Ledung. Konon, sebutan itu berasal dari Lele Bendungan. Ledung memang suka memancing. Dalam kegiatan yang disuka itu, ia terkadang jenuh menunggu ikan-ikan menyahut umpan. Maka ia putuskan untuk memiliki teman, berupa asap. Asap yang bisa berbicara. Namun, asap itu selalu mengeluarkan kata-kata yang tak utuh sebelum menghilang. Ledung harus kembali memanggilnya, agar kata-kata bisa ditelan secara penuh. Ia bisa memanggilnya sewaktu-waktu -asal ada rokok yang tersisa di kantongnya.

“Kau tidak sendirian,” ujar asap yang keluar dari mulut Ledung.

Lagi-lagi asap itu menghilang dan menarik rasa penasaran Ledung. Ia hisap kembali batang rokok yang tinggal separuh.

“Ada aku,” lanjut asap itu.

“Iya, aku tahu,” tutur Ledung untuk pertama kalinya. “Jangan berlalu begitu saja, sebelum kau menyelesaikan kata-katamu.”

Tapi asap telanjur menghilang. Entah asap mendengar sepatah kalimat Ledung atau tidak.

Setiap asap yang muncul, Ledung selalu teringat perempuan yang tinggal bersamanya. Terkadang asap itu tercipta di dapur, berasal dari masakan perempuan itu. Bau yang harum. Kelezatan sudah dapat diterka sebelum masakan itu bergulir di perutnya.

Asap itu juga timbul setiap sore. Perempuan itu rajin membersihkan halaman. Daun-daun yang berserakan dikumpulkan dan dibakar. Ledung kerap terganggu dengan asap itu. Tapi ia sabar. Dan sabar itu menyenangkan dirinya ketika melihat halaman yang tak menyisakan kotoran.

Ia hisap lagi rokok dan melepaskannya. Asap itu kembali. Sebelum ia pergi, Ledung berpesan, “jangan pergi terlalu cepat, seperti perempuan yang kucintai.”

Sleman, 2020

Kembali

tak ada lagi nama-nama
yang tertulis dalam buku tamu
sebab takkan ada yang menuliskannya

masa lalu adalah
kekuasaan yang menyeberang
ditorehkannya luka mendalam
orang kecil hanya mencium bau tanah
tak tahu sejarah darah
penuduhan yang menggiring
ke balik jeruji besi
Tuhan bahkan tak memegang bukti
sekadar melepas kasih sayang

cermin di almari bukan pantulan masa kelam
disisirnya rambut yang memutih
dikancingkannya baju yang masih putih
berangkat kepada minggu pagi dan pemiliknya

dia hanya tahu nyanyian itu
mempercepat tidurnya
dia hanya tahu ketika ibadah selesai
orang-orang berlomba membangunkannya
dia percaya Tuhan tak pernah menutup pintu
untuk setiap doa dan dirinya.

2020

Hari Tani

ini hari ke-dua puluh empat
pada bilangan september
yang kaubilang tak tepat

aku mengajakmu kembali
ke dua ribu tujuh belas
di mana kenangan itu terangkut
dan melintas sekilas

barangkali kita masih punya tempat
di malam yang sedikit biru

aku, mungkin kau juga
baru tahu bahwa para petani
memiliki hari perayaannya sendiri

maka darinya, kita bertandang
ke tanah lapang yang tersudut
berdampingan dengan puluhan makam
yang melangut dikelilingi
bambu-bambu berbulu lugut

kita memilih berteduh
meski sebenarnya tak ada hujan
menyaksikan lakon yang disorot
lampu-lampu pementasan

mereka seperti berpuisi
mengenakan bahasa yang tak kita ketahui
sesekali saling menyela dan memaki

kau terpana ketika salah satu bernyanyi
aku terpesona saat rekannya menari

kata-kata seolah menyingkir
juga aroma melati yang sepintas
mengharumkan rerumputan
yang limbung oleh angin semilir

kita mengingatnya
sebagai pertunjukan yang telah usai
sementara waktu terus melaju
menjadikan sejumlah hal tiada

ini hari ke-dua puluh empat
pada bilangan september
yang kurasa tak sempat

mengajakmu kembali
menelusuri kenangan tentang
hari perayaan petani

2020

Asap

aku hilang
mungkin kau cari
mungkin kau temukan
aku terhisap ke dalam tubuhmu
menginap di dadamu
beberapa detik
dan tak sempat tertidur
kau keluarkan aku dari pintu
lalu menemukanku lagi
aku sangat tebal, memudar
dan kau anggap lenyap
aku di udara
kau menemukanku kembali
tanpa bentuk, nir-warna dan fana
aku hilang
terkadang menjadi baying-bayang
atau sepenuhnya tak ada
kau akan menemukanku
kau akan menemukanku nanti

2020

Doa

“kita di sini saja”
menurutmu kita bisa kebal
hanya karena selalu bersama
di lalu lintas kota

“kita tak akan rentan”
wabah terus menggerogoti
utuhnya naluri manusia
juga hal-hal yang mengikutinya

“kita akan bahagia”
tapi kita tak sewaktu-waktu
bisa berdua

“dengan doa”
kita selalu melakukannya, bukan?

2020

Tumbler

seketika kau bertanya
dari seberang meja
di hadapan remah
dan kata yang sulit dieja

barangkali tempat ini
tepat tapi
tidak, katamu, banyak hal
yang belum tertutup rapat

kau mengeluhkan
letak september
di antara kenanganmu nanti

ini musim labil, katamu lagi
datang dari satu abad silam

malam tak sepenuhnya terganti
kita hanya kembali
ke ruang-ruang yang suram

hingga tiba
hari ke-dua puluh
yang tak mengucur harap
selain peluh

kau mengatakan langit
akan membentangkan lagi
warna amber. saat itu
tumbler pertama kali terbuka

kau mengendus luka
“aku menyukainya”

2020

Misal.

misalkan kita di Berbah

kita akan mengambil minum
sebelum menikung
dan aku telah menaruh
seperlima Sleman di wajahmu
semalaman, pada lipatan Selasa
18 derajat celcius lantai tiga
atau di kolong fly over
yang nasib pun belum selesai
dioper maupun digiring
menuju area piring

misalkan kita di Berbah

kita akan sering terhenti
pada garis ceracau
dalam proses hijau
dalam rahasia cuaca
yang langit pun tak menajamkan apa-apa
di Kota, di tengah kepungan Cctv
hamparan wifi yang terkunci
di samping toko obat perasaan
dengan pintu yang beku
sedikit bercak debu

tapi
misalkan kita di Berbah

kita akan……
kita akan……………

“kita akan apa?”

memilih berdua
dan berdoa

Tapi

hujan mengguyur gedung dengan kamar-kamar berbayar bulanan. kau mendapat anugerah di malam terakhir sebelum kau pulang menyudahi tualang, membentang senyum orangtua. kau pasti akan menerima selamat terlebih dahulu. mungkin setelahnya tawaran makanan. atau permintaan kisah-kisah singkatmu.

tapi cerita malam kedua ini bisa saja kau simpan untuk hari-hari yang masih rahasia. jika kau diterima sebagai pegawai negara, kau akan pindah ke luar kota. dan akan tertera sejumlah pilihan berat yang mesti kausisihkan. akan banyak rindu yang kautebar. cinta akan diminta semakin bersabar.

pada cerita yang mengalir, ada kantuk yang sengaja menggantung hanya padamu. waktu menggerus hingga kau seperti ingin terjatuh, selalu.

jika kau ingin sandaran lagi. dan jika aku berani menawarkan pundak untuk pertama kali. malam keduamu yang diguyur hujan ini pasti akan abadi. tapi…

Solo, 2020

Berutu

di jalan Insinyur Sutami
mungkin kau akan terkejut
bersama bunyi “klak” yang terpecut

motor memang berjejalan
di tepi jalan, namun kau
selalu kesepian.

kau membeku
seakan dibidik sebagai pelaku
tapi itu lampu, yang kuning,
remang dan sendu

mungkin kau
akan mengambil kursi
setelah layar Hp mati

kau kerap bertanya
adakah ruang yang masih bisa terisi
jawabannya ada di sana,
di kursi, yang pecah, tak seimbang,
selagi ditinggalkan pasti

barangkali kau ingin
menata rambut sembari
menatap meja, tapi sama sekali
tak ada semut di antara tusuk sate
“tidak jual rokok forte,”

penjaja menyahut.
sejumlah daging terlihat lembut
namun kau memilih berutu
“hati-hati, kau akan sering lupa”
aku selalu mengingatmu

tapi mengapa?
sebaiknya jangan tanyakan itu
semuanya sudah tertera
di jalan ini, di Insinyur Sutami,
dan kau selalu mengingatku

2020

Alun-Alun

segalanya berharga
di malam itu

seluruh bunyi Kota
pingsan,
selama 235 detik
teenage blue diputar

waktu
sempat lumpuh
dan tak lagi menakutkan

daun pagar dahan
putih rumput ranting
aspal hijau trotoar
angin mata doa
(kita)
menjadi keemasan

segalaNya berharga
di malam itu

2020

Kapuk

satu-dua tahun nanti

kau akan mengakui Jakarta
sebagai nama yang pantas
di pinggir selokan waktu yang deras

dan di luar pagar stasiun
orangtua serasa asing dengan masa pensiun

tak semua orang tahu
awan-awan tiap dini hari
diremas, masuk ke karung
lalu bertumpuk di dalam bak truk

“tapi itu kapuk”
ujar ibu menyela imaji anaknya

“seberapa keras tulangmu nanti
kau harus tetap selembut itu”

seperti itu. selalu

si anak mengangguk
setengah terpejam dalam peluk

2020

Di Sudut Itu, Ia Didesak Rindu

hening
meledak di setiap sudut
sekat hampir kuning
menuang pesan:

dimohon tidak berisik
termasuk
cinta
yang meriah di meja makan

tapi di sudut lain
orang bertudung gelap
masih sendiri

seperti sedih
tapi ia sulit mengakuinya
ia percaya tak pernah ada
selamat tinggal

dan sebenarnya
itu yang terjadi
cinta
mungkin harus menyeberangi kota

tak ada yang tahu
di sudut itu
ia didesak rindu

kecuali doa
ia tak melakukan apa-apa

2020

Pagi Buta di Sebuah Kedai

 

I

DARI dalam buku

huruf-huruf ditekan

lainnya merenggangkan pinggang

sebuah hakikat diterangkan.

yang ada bersikeras

hingga puntung jadi abu.

beterbangan

 

ada orang yang sudah menyelam

ke dasar kolam

sementara di permukaan

pelampung tengah diperebutkan.

 

gitar melekuk idaman

dipangku Thom Yorke

bibirnya berputar

hampir mendekati

piringan kaset tak sempurna:

I dont belong here

I dont belong here

I dont belong here,

begitu

saluran radio tersiar

dari sebuah kepala

 

dawai puncak tak jelas bunyinya

atau suara itu sengaja dihindari,

ia suara yang

termakan usia,

tapi 1ikuti pola setiap orang

mereka tumbuh dewasa, tua

dan mati: itu tak masalah

 

II

aku harus lekas

meliput berita tentang          kawan

yang pergi dengan                 kekasihnya

ke tempat tak diketahui        bapaknya,

di tengah jalan raya

aku temui orang berputar

memainkan tongkat merah:

warna yang mencemaskan

sekilas ia bak dirigen orkestra

dengan sajian lagu british

yang mungkin kausuka.

 

tiba akhirnya,

di tempat persembunyian

(yang ternyata) Twitter:

goa yang riuh,

kerap ricuh.

 

III

suatu pagi di sebuah kedai

jam tutup masih berlaku

pukul 2 buta

aku mengetuk

 

dan

 

kau yang selalu memegang kuncinya.

 

 

2020

 

 


1lirik lagu Grow Up, gubahan FUR

Pulang di Bulan Juli

//

hujan dan juli adalah kepastian
air mata mengiringi lagu
yang bertumpahan

aku: tepat di belakangmu
melangkah tunduk
jalanan selalu sama

kita sudah menduga
lantas bersiasat mengelabuhi
kepastian sejak diperingatkan

menghadapinya: salah satu cara
agar kita berdamai dari sekelumit
ketakutan yang ada

hujan dan juli telah datang
dan kau memilih pulang

2020

Mengetik Ulang Proposal

//
mungkin

gerimis belum pernah habis
diturunkannya

bulir—————-yang
begitu
t
i
p
i
s
=> mengganti
tinta mesin fotokopi
yang

bekerja———————12 jam

dalam sehari.

aku masih memperbaiki rayuan
menafsirkan kebaikan menjadi sejumlah

UANG

komponen perut yang ditata sedemikian rapi
isinya:
———-beras
——————gula
————————beserta anggapan
– z a l i m –


kemanusiaan temanku diterpa
ke. bi. ngu. ngan
cetakan pemikiran dengan

pemukulan rata
disebut
pemerataan rasa

di dunia yang serba
atas dan bawah:

keadilan

sedang diketik asdfghjklzxcvnmqwer

ULANG

2020

Malam Sang Penjaga

//

ia datang kemudian
matanya tak ingin atau semula dibuat
seperti langit yang berhenti berganti

di sebelah gardu yang reot,
kertas pahlawan sudah tidak dibicarakan
angka-angka lainnya telah menyita matanya
hingga waktu bergulir saja: tersiksa

masih ada ratusan malam
mempersilakan kehadiran dan kepergiannya
terpaan angin menggigilkan segala bulu
selalu seperti itu: paru yang menggilir
ketakutan dari ragam kematian

2020

Saat Aku Memutar Lagu Cigarettes After Sex

//

Saat aku memutar lagu-lagu
Cigarettes After Sex,
banyak hal
mulai
melayang-layang

di alam benakku.

Aku seperti terkapar
usai mencicip
malam
yang
begitu manis

Malam yang rupanya
disisipi racun
sehalus
angin
yang berhembus

menggerogoti telingaku.

Sweet,
begitu bunyi lirik terdengar
tersesap pula sebatang penyala
pada bibirku

Manis apalagi yang mesti kurasai
malam ini,
malam
yang cukup
menggerayangi tubuh
penuh lubang hati

2020

Soneta Penjahit

//

tubuh mesin jahit tak lagi disandari
potongan kain. jarum yang menggigil
masih tajam tanpa benang dan enggan
menyetubuhinya hingga membuahkan
baju sekolah. penjahit menjadi kerap
memesan ruang tengah. ia melahap
kabar kematian dengan lelah

anak-anak punya mainan baru mengaduk
kartu di dalam gardu. paras memutih
sekian jari bedak bayi memeriahkan hari
yang selalu menjelma akhir pekan
mereka enyah dari baju sekolah
tak akan menyambangi penjahit
yang lelah dengan kematian

2020

Senyum Buatan

aku

tak mengingat kapan senyuman
itu merekah bersama semburat
pagi yang menyilau keemasan, ada
sejumlah perihal yang hilang sejak
kau ditinggalkan.

menahun silam

aku kerap terbangun oleh basahnya
cerita beriringan air keran yang
bercucuran. tentu dapur kini sunyi
jika beberapa peralatan di meja,
di paku tembok, di rak rehatnya tak
berisik karena jemarimu yang

menggelitik.

banyak hal yang berubah
termasuk lekuk wajahmu usai
orang yang kau cinta tiada.
semestinya perlu senyuman buatan
sebab memang hidup begini adanya

lahir

untuk ditinggalkan, kemudian
berjalan di tengah kemalangan
hingga kau sadari masih ada
aku yang tersisa

2020

Muntah Kata

.

malam ini aku tak ke mana-mana
seperti cukup bermain
di ruang pesanmu

aku memilah kata
lantas memutarnya
hingga mereka mual

selang waktu kemudian
tiga ketukan terdengar
di suatu pintu

bapak, ibu atau saudara-saudarimu
saling menatap dan bertanya
“Siapa?”

kata-kata itu tak tertahan lagi
mereka muntah dari mulutku
di depan rumahmu

2020

Keronta

ia serba hitam dilingkupi
kegelapan tengah lengang seperti
merenungi magrib yang bertandang,
seolah selamat tinggal begitu berat
dilontarkan pada senja yang usai
semburat di langit dan benda-benda.
lagu sendu diputar, mereka masih
enggan melambai pada perpisahan.
siut harmonika kian membekukan
penyelaman semakin dalam
hembusan makna tak hentinya
mengelus batin yang keronta

2020

Batu

mulut kau sebaiknya tak menjadi
batu. aku rindu lidah yang sesekali
menjulur seperti Rolling Stones
yang dulu sering mengejekku karena
tidak ada sesiapa yang dapat
menjangkau planet merah
– kecuali pendaki galaksi Paman Sam.

jangan batu yang itu. jangan pula
mulut kau. batu hanya abadi
bersama nama sekelompok orang
pembuat gema di benak penggemarnya.
menggelinding saja mulut kau
menggempur sunyi tubuhku

Diam

aku sudah diam
tak perlu ada kata-kata
mungkin akan diam
seribu hari kemudian
kata-kata terpendam
telinga mereka baik-baik saja
kata-kata juga sama halnya
di mata mereka
aku sudah diam
tak terhitung diam itu
kalau pun bisa dihitung
tak ada seribu hari
kecuali mengingat kematian

Sepatah Hamdalah

  • Di sebuah stasiun bilangan Jakarta Pusat – kota yang konon tak punya pelupuk mata – itu, aku merasai kesepian di tengah keramaian. Namun seperti ada keramaian di dalam kesepian itu. Keramaian yang bukan tercipta dari kebisingan kendaraan di luar maupun obrolan orang-orang yang berlalu lalang. Ada yang sendirian tetapi tak benar-benar sendiri, yakni bersama dalam percakapan seberang dari telepon genggam.

Aku terkapar di ruang tunggu dan tak cukup kenyang mimpi-mimpi. Sampai pada suatu jenuh, aku melenggang ke ruang ibadah. Dalam ruangan itu aku tak boleh terlihat bersantai, sebab petugas keamanan selalu bersiaga untuk memastikan tempat itu digunakan sebagaimana fungsinya: bukan untuk mampir rehat apalagi telentang terang-terangan. Sudah beberapa kali petugas itu mengeluarkan peringatan terhadap orang-orang. Untungnya aku masih lolos dari teguran karena kupasang tanganku dalam posisi berdoa setiap kali petugas itu mampir.

Di dalam pose khusyuk itu, aku mendengar napas memburu begitu cepat. Kepura-puraanku mulai terganggu. Ketika kubuka mata dan benar adanya: seseorang tepat duduk di sampingku tiba-tiba. Seperti tak tahan dengan kondisi itu, ia jamahkan telapak tangannya tepat di dada yang meledak-ledak. Begitu lembut ia mengelusnya, merenggangkan debar jantung yang sebelumnya rapat. Ia berusaha meraih ketenangan. Seluruh organ di dada bak mesin yang dipaksa bekerja keras. Wajahnya yang basah keringat itu tersamarkan oleh basuhan air wudhu.

“Alhamdulillah,” ujarnya saat suasana tubuhnya mulai terkendali. Sepatah hamdalah diucapkan orang asing yang kepayahan itu. Sepatah hamdalah dilantunkan oleh dia yang habis diguncang sesuatu yang tak sepenuhnya diketahui siapa pun, terkecuali Tuhan dan dirinya.

Selang menit kemudian, ia mengeluarkan ponsel dari kantong bajunya. Tampak seseorang mencoba menghubungi namun ia enggan mengangkatnya. Ia justru memilih mematikan ponsel mewah itu dan mengotak-atiknya, termasuk membuang kartu mungil di dalamnya secara sembarangan. Lantas barang itu diulurkan padaku. “Tolong dibeli, Mas. Dua ratus ribu saja.”


*Diinspirasi oleh musikalisasi puisi ‘Doa dari dalam Sebuah Kamar Hotel’, karya Jason Ranti. Tokoh Maria Zaitun yang berprofesi sebagai pelacur – yang disayang Tuhan – di dalamnya sudah cukup menerangkan bahwa ia terilhami puisi gubahan WS. Rendra, Nyanyian Angsa.

Tentu bukan kali ini saja pria yang karib disapa Jeje itu berangkat dari karya-karya penyair besar. Sebelumnya, ia membuahkan ‘Lagunya Begini Nadanya Begitu’ yang penuh sitiran bait-bait puisi Sapardi Djoko Damono. Dan rupanya lagu itu memang dijadikan kado bagi penyair lintas zaman tersebut.

Terpisah dari alasan Jeje memilih berkiblat pada penyair ternama, ada kesamaan yang terdapat pada diri Sapardi dan Rendra. Pertama, mereka satu generasi, yang oleh H.B Jassin, disebut angkatan ’66. Kedua, sama-sama lahir di Solo, kota kecil namun sarat akan energi baik.

Gadis India

Aku menatap kau seperti aku menyaksikan
gadis India yang dipaksa bicara meski ia
senantiasa berusaha melakukannya. Matanya
biru seperti langit yang sering kau puja. Luas
dan disertai mendung yang berkendara. Kau
pasti ingin terbaring di sana, merasai
lembutnya bak kasur kau yang menangkup
mimpi-mimpi pada siang hari.

Aku mengagumi kau barangkali sama seperti
doa ibu gadis itu, yang kerap menitipkan
harapan dalam sunyi disembari air mata yang
menghangatkan pipi. Ibu yang bersikukuh
mengantarkan anaknya ke Pakistan agar
dapat mengudarakan kata-kata, kasih sayang
yang bertumpukan di lorong dada.

Aku ingin menjadi kereta jika saja setiap
gerakan bisa diatur kembali. Kereta yang
membantu gadis itu menggapai ucapan yang
meneduhkan bapaknya ketika pulang
menyenangkan ternaknya. Sementara aku
berjalan melindas rel yang sebagian berkarat,
kuda-kuda itu setia menemani seperti mereka
rela untuk ditunggangi saban hari.

Tapi aku tak ingin kau keluar untuk mengelus
bulu domba kecil meski sejenak. Kereta atau
aku sedang kurang baik dan mesti diperbaiki.
Aku mengharapkan kau duduk saja, tak
membuat jarak kian lebar dalam kasat mata.
Karena aku seharusnya menanyakan keadaan
dari sisi kau. Begitu juga kau sebaliknya. Tak
ada kehilangan untuk masing-masing, sampai
kata-kata sudah menjadi teman bagi bibir kau.
Aku pun bersenang hati untuk berkenalan
dengannya. Kemudian kau dan aku akrab
mengutarakan segala hal, termasuk cinta.

Rintik Mata

kita tak perlu menelusuri kamar-kamar
apalagi menggegam gagang pintu belakang
karena kita tak pernah mengelus muka gerbang. cinta belum sempat bersambut
di ruang tamu dengan segala kekosongannya

air mata tak akan mengucur
di lantai yang dimusuhi sapu dengan
bulu-bulu yang lusuh. seperti kita yang urung niat
membasuh rindu di kebun binatang. mengagumi
monyet yang menari di tengah rintik hujan

lihat apa yang sudah diremukkan
oleh virus yang bertebaran itu!
jembatan kita. ia telentang
kokoh tanpa cinta hingga akhirnya patah
karena pergulatan hati dan kata-kata

ketika rintik hujan tiba di luar ruangan
kita menerka langit tengah bersedih
menangisi kita. tapi barangkali itu
isyarat bahagia. dan apa arti
rintik hujan di dalam mata kita?

2020

Layang-layang

hujan tersingkap dalam musim
layang-layang. kau semakin
ingin bermain. aku selalu
menunduki hasratmu.
usai jalan itu leher kita menyatu
terikat seuntai benang ditiup
angin utara. bersanding dengan
layang-layang. tapi sayangnya,
kita terus terbang hingga
menyaksikan bintang-bintang
untuk kembali sekejap
dalam derap kaki-kaki keranda

Danau Keringat

Rumah Jalu tiba-tiba jebol pada suatu siang. Dari sebuah lubang, air mengucur deras. Air itu terus memukul tembok bak menjadikannya sansak. Lubang pun semakin bertambah. Dan akhirnya bangunan rumah itu runtuh juga. Hasil jerih payah Jalu selama berpuluh-puluh tahun tak bersisa.

Warga berdatangan sontak terkejut. Tanah tempat rumah Jalu berpijak justru beralih menjadi sebuah kolam. Ada pula yang meneriakinya blumbang. Ada juga mengatainya telaga. Namun ada yang memilih menyebutnya sebagai danau karena saking luasnya. Gedung tingkat tinggi yang berdiri kokoh di sana lenyap entah ke mana.

Keberadaan Jalu tak diketahui. Hanya bau masam yang terendus, barangkali Jalu tenggelam di danau itu. Tak bisa berselimur rasa cemas, sebagian dari kerumunan warga menceburkan diri untuk menemukan Jalu. Akan tetapi baru beberapa saat menyelam, satu per satu kembali ke permukaan dan menyampaikan keluhan.

“Danau ini sangat dalam. Tak jelas sampai mana dasarnya,” ujar salah satu penolong.

“Airnya juga bau keringat,” sahut penolong lainnya.

Selang hari kemudian, para utusan pemerintah bertandang. Mula-mula mereka tampak memasang wajah ketakjuban terhadap danau itu. Meskipun hidung mereka selalu terjepit oleh jarinya. Seperti tak kuat mencium bau keringat. Di luar dugaan mereka lantas bergerak cepat memasang pelakat.

“Jangan-jangan danau ini hendak dijadikan tempat wisata,” pikir Jalu yang mengintip dari dasar danau.

Tak ada yang mengira jika Jalu lah yang berperan penuh membuat danau itu. Sesaat setelah ia tenggelam oleh keringatnya sendiri, Jalu mengeruk tanah sedalam yang dimampu untuk menampung air agar sekitarnya tak terdampak luapan. Gedung yang tinggi itu, Jalu pula yang menyeretnya ke dasar lantas menelentangkannya seperti posisi saat ia mengambil tidur tiap malam. Di salah satu kamar gedung itu, Jalu tinggal dan ia tak ingin ditemukan.

Air hujan yang kerap turun kian menyamarkan bau keringat danau. Tempat itu jadi ramai tiap menjelang petang. Orang-orang berkunjung untuk melipur lara masing-masing. Melihat burung-burung lapar tegar lantaran tak dapat ikan untuk dimangsa. Sebagian dari mereka menyukai desahan air yang dibelai lembut oleh angin. Tapi yang paling ditunggu adalah semburat senja yang seakan berpindah ke permukaan danau. Bumi saat itu seperti langit dan langit seperti bumi. Sulit mengecap mana yang memancarkan cahaya. Momen itu yang juga disukai Jalu. Sinar keemasan yang menembus hingga ke tempat di mana ia tinggal.

Jalu semakin betah menempati gedung di dasar danau. Lebih baik ia mencair seperti anggapan orang-orang. Ia perlu menebus lelahnya hidup bertahun-tahun. Namun ia merasa hanya butuh waktu istirahat selama satu bulan saja. Sekiranya cukup.

Selama itu permukaan danau sering menimbulkan suara, seperti rintik hujan yang menumbuk secara pelan-pelan. Selesai jeda, Jalu heran dengan bunyi permukaan yang tak henti-hentinya. Ia pun beranjak memeriksa.

Apakah hujan benar-benar turun sebulan belakangan. Memastikan apakah semburat senja telah ditembok mendung hitam-keabuan.
Ia terkesiap mendapati permukaan danau yang tak lagi mengantarkan penglihatannya kepada langit. Botol-botol telah menutupnya. Ia pun menyadari suara yang timbul belakangan.

Tanah tunduk pada langit dan menerima apa pun yang datang1. Namun rupanya langit tak sebatas langit yang menjadi atap bumi, yang warnanya berubah sesuai waktu. Bukan sekadar tempat menyimpan bintang-bintang, bulan atau pun semburat senja. Langit bukan hanya langit sebagaimana yang ditoleh sebelum orang-orang memasang jemuran, sebab terkadang darinya seolah hujan dijatuhkan. Langit juga dapat terbentuk dari tangan-tangan manusia, yang dapat menjatuhkan apa saja, termasuk botol-botol yang menutup permukaan danau itu.
“Sial!” umpat Jalu untuk pertama kalinya. Ia tidak bisa menyaksikan semburat senja lagi.
————
1Dari cuplikan puisi Jalaludin Rumi, Lorong Sunyi.

Pengemis Maaf

  • Negeri di mana Jalu tinggal sedang dilanda virus misterius yang belum dapat ditemukan penawarnya. Beberapa langkah sempat ditempuh untuk mencegah datangnya virus, namun sayangnya pemangku kebijakan terlambat mengambil keputusan. Alhasil mereka kecolongan. Virus masuk dan sulit untuk diusir, apalagi dilenyapkan.

Berbagai kebijakan tak berpengaruh terhadap hidup Jalu. Ia tetap saja mengemis di depan kantor pengiriman surat entah apapun keadaan negerinya.

Jalu bisa dibilang orang yang cukup mujur lantaran setiap pengunjung bersedia menyisihkan sepeser kekayaannya. Namun Jalu tak menerima pemberian dalam bentuk uang. Ia hanya ingin maaf dari orang-orang yang hampir semuanya tak dikenal.

Dia mendapat maaf bermacam-macam. Ada yang menjulurkan secarik kertas bertuliskan ‘maaf’. Ada yang meninggalkan rekaman berbunyi ‘maaf’. Ada juga yang meletakkan uang kertas yang dicorat-coret dengan kata ‘maaf’ supaya Jalu mau mengambilnya.

Sudah tiga puluh tahun Jalu menjalani hidup sebagai pengemis. Artinya, dia telah merasakan enam kepemimpinan yang berbeda. Dalam kurun waktu tersebut, ia berhasil mengumpulkan banyak maaf dari kerja kerasnya. Hidupnya kini sudah tertolong berkat tangan-hati yang baik. Jalu tak pernah kelaparan lagi. Bahkan ia mampu membeli sebuah rumah layak huni, memakai pakaian rapi. Yang lebih mengejutkan lagi, ia sudah bisa berbagi kepada orang yang lebih membutuhkan.

Namun, beberapa tahun belakangan maaf mulai langka. Jalu pun berat hati menghentikan pekerjaannya sehari-hari itu. Beruntungnya, ia masih punya persediaan maaf yang melimpah. Padahal ia tak memiliki niat untuk menimbun sebelumnya. Ia malah kerap memperoleh pesanan maaf dari berbagai kalangan. Mulai dari penyanyi ternama, pebisnis terkemuka hingga pejabat negara seperti halnya Presiden.

Disebutkan oleh koran tersohor sepenjuru negeri, sang presiden telah kehabisan maaf. Ia tak mampu memenuhi kebutuhan rakyat yang sebenarnya menuntut satu kata maaf saja.

Betapa senangnya hati Jalu saat dilirik oleh Presiden. Ia bahkan rela memberikan secara cuma-cuma. Tetapi orang nomor satu di negerinya itu bukan menginginkan maaf sembarangan. Ia mau maaf yang paling tulus dan belum pernah digunakan di muka bumi.

Jalu pun berusaha mengabulkan permintaan sang presiden. ia mencari apa yang dimau di gudang miliknya. Ruang penyimpanan itu dipenuhi tumpukan maaf. Ia memberengkalnya, memeriksa dengan teliti, mencoba meraih maaf yang dimaksud pemimpinnya itu.

Namun dalam satu minggu pencarian, Jalu tak berhasil menemukan maaf yang paling tulus di muka bumi itu. Kesempatan sudah jatuh tenggat. Kendati begitu, ia bersikeras mencari hingga lupa makan, lupa sebagian tanah miliknya dibangun gedung tingkat tinggi, lupa keringatnya mengucur deras sampai membanjiri ruangan yang sangat tertutup tersebut.

Jalu pun tenggelam oleh kucuran keringatnya sendiri. Begitu juga dengan maaf yang dikumpulkannya bertahun-tahun. Akan tetapi sebelum benar-benar tamat, ia sempat menghubungi presiden lewat telepon.

“Pak Presiden, saya tidak bisa memenuhi pesanan anda. Maaf paling tulus di muka bumi itu barangkali ada pada diri anda.”

“Baik. Nanti saya cari sendiri. Maafkan saya karena merepotkan anda.”

Negeri Air Bertuan

  • Lemboro telah bertubuh kering sejak ia memutuskan untuk berkelana. Ia mengenakan pakaian longgar yang sering berkibar seiring udara menghembus kencang. Ia memilih menempati ruang terbuka. Tak ada yang bisa menebak ia akan terbaring di mana suatu malam.

Di tengah kondisi dirinya yang mencemaskan itu ia tak merasa terbebani. Ia justru menikmatinya. Lantas ingin berontak kepada siapa jika hidupnya sudah dikehendaki sedemikian rupa.

Namun ia merasa khawatir setelah mendengar kabar bahwa sang Raja di negeri itu mengharuskan tangan penduduknya selalu basah. Kebijakan itu membuatnya ketar-ketir.

Sang raja bahkan mengirim utusannya untuk memeriksa secara berkala. Bagi yang ditemui dalam kondisi tangannya kering, maka akan langsung digelandang ke sebuah kurungan. Masa pendekamannya pun tak main-main. Seratus tahun alias satu abad.

Setelah memperhitungkan berkali-kali dan diyakini pasti, Lemboro terngiang bagaimana ia mengisahkan dirinya kepada anak-cucu jika hidupnya habis di penjara. Ia juga menyayangkan air-air yang sudah memiliki tuannya dan berharga mati. Kalau saja ia nekat mengambil sembarangan, ia terancam hukuman yang sama.

Lama ia memikirkannya, akhirnya ia menemukan suatu cara. Lemboro dengan berani memotong tangannya karena sudah tak ada pilihan lagi. Tangannya basah oleh darah. Setidaknya ia merasa aman saat utusan raja berkeliling mencari seorang pelanggar aturan. Sebab, ia sudah mematuhi perintah.

Menyaksikan hal itu, banyak orang mengerumuni Lemboro. Kilat cahaya di genggaman orang-orang itu menyilaukan matanya. Mereka tertarik dengan apa yang dilakukan dirinya. Lemboro dengan tangan terpotong dan darah yang membasahinya itu diabadikan. Lantas mereka beramai-ramai mengirimkannya ke surat kabar disertai kalimat penegas, “Aku yang pertama!”, “Aku lebih dulu!”, “Sudah pasti aku lebih awal!”. Sekilas saja mereka mendatangi Lemboro. Kemudian kembali mendiami rumah sembari menanti tanggapan orang-orang tanpa kartu tanda pengenal.


Para utusan itu terus berkeliling setiap pagi terhitung sepuluh kali pada hari ini. Sebanyak itu Lemboro memotong tangan agar senantiasa basah meskipun oleh darah.

Menyadari keganjilan itu, orang yang berebut potret Lemboro beberapa waktu lalu datang dan menuding dirinya memiliki kesaktian. Pasalnya, Lemboro bisa menyambung tangannya tanpa bantuan siapapun. Bahkan tabib ternama di muka negeri belum tentu sanggup melakukan hal gila itu.

Mereka sontak bergantian meminta pertolongan kepada Lemboro. Sebuah permintaan yang lebih gila. Satu per satu maju. Lemboro diminta untuk menyambung hidup mereka. Ia sudah berusaha menjelaskan bahwa dirinya tak dapat memenuhi permintaan tersebut. Namun orang-orang itu tak kunjung mengerti karena memang tak mau peduli. Lemboro tetap saja menerangkannya hingga dirinya kewalahan dan akhirnya pingsan.

Maaf

//

maaf tak cukup diberi harga. di dalam kata
ia ditelan maknanya sendiri. ia telah
kurus-kering bergelimpangan di tengah
carut-marut pundi negara. ia urung
diterbangkan ke tanah saudi mengitari
kerinduannya tujuh kali. bahkan ia
tersingkir dari istana cendrawasih
yang tak mengepakkan sayapnya
berhari-hari. ia hengkang dari corong
politis yang menyorong ke belahan
singgahsana. ia mulai langka kebanyakan
mati pada kata yang kerap diminta-minta
atau ditimbun di barak bibir siapa.

2020

Kantuk

//

kau.
sekarat ditimpa kantukku yang
bertumpuk-tumpuk namun kau
selalu bertahan hidup tiap mataku
menemukan benamnya.

gelap.
kegelapan yang tidak lebih gelap
ketika mataku terbit perlahan-lahan
dari arah yang belum diberi nama.

sejenak.
di sana kau mulai ada
kau tersenyum kemudian tiada
bukan mati.

barangkali.
mati suri sebab keberadaanmu
seringkali menjelma hela napas
sunyi dadaku

2020

Balon Udara

lebaran angkat kaki
ditinggalkannya sisa-sisa pandemi
untaian maaf menjulur dalam
bentang jarak. sementara gawai
menangkup paras manis yang
dikeroyok rindu di penyeberangan.
begitu ramah rumah menabirinya
hingga kabel listrik terkejut
akan kedatangan balon yang
kehabisan udara. ia terjatuh
bernyalakan api yang sesenggukan
segelintir manusia tergidik
bisakah mereka tersungkur dari
kemanusiaannya. pandemi menyulap
perut seperti kaca: cekung atau
cembung. dan mereka tak mesti
melihat ke mana

2020

Surat Ke-empat

JIKA benar suratku hanya pertepatan
janji atau pemenuhan estetika
aku harus menarik kalimat itu
Aku. bersama surat-suratku
ingin menjadi sungai saja yang
terus mengalir ke laut matamu.
Meski terkadang pesan dalam
kondisi keruh sekalipun
kuharap kau bisa menjernihkannya
lewat rintik kata yang menjatuhi
mataku. merembes ke dada
tenang. menyejukkan.

2020
#BukaPuasaBukaPuisi29

Kerut

.

aku berganti dari jalan
ke jalan. langit marah melihatku
keliaran hingga matanya memerah
seperti warna bibir perempuan
raksasa yang terkatung
di papan berkala.

(aku kecil. sebagai kutu aku
senantiasa melompat mencari
tempat penanggalan suratku)

Oh! rambut bumi ini
sudah berjatuhan digunduli
bangunan. aku menyisir jalan dari
helai kendara yang berantakan. langit
kian geram padaku dan memadam.
bibirku berkerut. tak basah dari
hujan minuman. Tuhan!
puasaku panjang.

2020
#BukaPuasaBukaPuisi28

Karung

karung-karung mulai disinggahi
tubuh padi. orang berbondong
mengosongkan tangan dari pertanda
jika musim pahala telah berada
di ujung tanduk, raut muka perlahan
dibentuk menyerupai langit yang
tercekik oleh para mendung
mata surya menyipit menitihkan
tangis yang terurai bagai rambut
perempuan.

tiap kesempatan menjadi lubang
yang sempit, riuh bisikan mendesak
kebenaran agar tak mempunyai
ruang untuk kembali. perjumpaan
dengan rentang waktu yang suci
telah berombak di kejauhan. riak
yang muskil dijabarkan oleh lekukan
iman.

2020
#BukaPuasaBukaPuisi27

Jantung

.

aku
melupakan
detik-detik yang
menghitungku. ada
kengerian anyar tiap
jantungku berdenyar. aku
sempat memikirkannya. meniup
jantungku seperti balon yang
mendesak tubuhku. terbang
menuju dadamu. jantungku
biar berdenting saja
menyemarakkan
debar cinta
di sana

.

2020
#BukaPuasaBukaPuisi26

Pulang

mengukur lima hari mengerut
kembali melekap diri yang terserak
bujukan duniawi. menggerapai ulur
lengan yang maha suci

ada kabar yang menyala remang
mendetakkan sanubari yang lena
bersarang dalam relung
di gua yang sekian masa
terhindar dari hentak gema.

ranjang itu terdorong oleh pecahan
air mata. utusan dari surga masih
mendiami rahim ibunya. ia datang
sejak empat bulan demi mengajak
pulang ke langit yang esa.

2020
#BukaPuasaBukaPuisi25

Lantai

KAU menepis tangis pada suatu
malam yang masih bisa
dijumput menjelang pergantian
pekan. lantai itu saksi tanpa
penatap. tak pernah menerima
gelitik air mata. kau terus saja
menjungkal sangka yang tak
menemui dasarnya. tapi mata itu
berpencaran di sudut-sudut. setiap
tolehan menjelma embus kata yang
yang memasuki lorong rahasia.
air matamu seperti air mataku
mengalir tenang ke lantai nelangsa.

2020
#BukaPuasaBukaPuisi24

Subuh

Aku menendang subuh ke langit
dua pintu dengan sejumlah
pertalian warna dan segala cuaca
rahasia. Aku membidik jarum yang
sudah menghitung angka sejak ia
dilahirkan dari kepala. Subuh itu
kembali jatuh menggencat mataku
hingga memipih dan seakan tak
tersisa kerlipnya. Aku singgah
pada mimpi yang tak pernah
dibangun siapa. Aku bisa
melihat mataku sendiri dan sungai
deras yang mengalir darinya. Aku
kehilangan mimpiku pada mimpi itu.
Bapak. Sekian kali ia tergeletak
pada subuh. Pada mimpiku.

2020