Pagi Buta di Sebuah Kedai

  I DARI dalam buku huruf-huruf ditekan lainnya merenggangkan pinggang sebuah hakikat diterangkan. yang ada bersikeras hingga puntung jadi abu. beterbangan   ada orang yang sudah menyelam ke dasar kolam sementara di permukaan pelampung tengah diperebutkan.   gitar melekuk idaman dipangku Thom Yorke bibirnya berputar hampir mendekati piringan kaset tak sempurna: I dont belong here…

Timur Boulevard Kampus

-- Solo dalam langit berbintik kerlap-kerlip lampu mini perayaan rutin dipastikan tertunda Ia mengeluhkan sepi. sepi yang keliru di sebelah jalan raya bertudung biru tua buah cibir menjatuhinya ia terus tertawa sudahlah. malam kian tergulung ia semestinya kenyang dengan rekayasa tapi tangannya tak juga henti mengelus perut yang susut. 2020

Pulang di Bulan Juli

// hujan dan juli adalah kepastian air mata mengiringi lagu yang bertumpahan aku: tepat di belakangmu berjalan dengan tunduk langkah selalu sama saja kita sudah menduga lantas bersiasat mengelabuhi kepastian sejak diperingatkan menghadapinya: salah satu cara agar kita berdamai dari sekelumit ketakutan yang ada hujan dan juli telah datang dan kau memilih pulang 2020

Mengetik Ulang Proposal

// mungkin gerimis belum pernah habis diturunkannya bulir----------------yang begitu t i p i s => mengganti tinta mesin fotokopi yang bekerja---------------------12 jam dalam sehari. aku masih memperbaiki rayuan menafsirkan kebaikan menjadi sejumlah UANG komponen perut yang ditata sedemikian rapi isinya: ----------beras ------------------gula ------------------------beserta anggapan - z a l i m - kemanusiaan temanku diterpa ke.…

Malam Sang Penjaga

// ia datang kemudian matanya tak ingin atau semula dibuat seperti langit yang berhenti berganti di sebelah gardu yang reot, kertas pahlawan sudah tidak dibicarakan angka-angka lainnya telah menyita matanya hingga waktu bergulir saja: tersiksa masih ada ratusan malam mempersilakan kehadiran dan kepergiannya terpaan angin menggigilkan segala bulu selalu seperti itu: paru yang menggilir ketakutan…

Saat Aku Memutar Lagu Cigarettes After Sex

// Saat aku memutar lagu-lagu Cigarettes After Sex, banyak hal mulai melayang-layang di alam benakku. Aku seperti terkapar usai mencicip malam yang begitu manis Malam yang rupanya disisipi racun sehalus angin yang berhembus menggerogoti telingaku. Sweet, begitu bunyi lirik terdengar tersesap pula sebatang penyala pada bibirku Manis apalagi yang mesti kurasai malam ini, malam yang…

Soneta Penjahit

// tubuh mesin jahit tak lagi disandari potongan kain. jarum yang menggigil masih tajam tanpa benang dan enggan menyetubuhinya hingga membuahkan baju sekolah. penjahit menjadi kerap memesan ruang tengah. ia melahap kabar kematian dengan lelah anak-anak punya mainan baru mengaduk kartu di dalam gardu. paras memutih sekian jari bedak bayi memeriahkan hari yang selalu menjelma…

Senyuman Buatan

aku tak mengingat kapan senyuman itu merekah bersama semburat pagi yang menyilau keemasan, ada sejumlah perihal yang hilang sejak kau ditinggalkan. menahun silam aku kerap terbangun oleh basahnya cerita beriringan air keran yang bercucuran. tentu dapur kini sunyi jika beberapa peralatan di meja, di paku tembok, di rak rehatnya tak berisik karena jemarimu yang menggelitik.…

Muntah Kata

. malam ini aku tak ke mana-mana seperti cukup bermain di ruang pesanmu aku memilah kata lantas memutarnya hingga mereka mual selang waktu kemudian tiga ketukan terdengar di suatu pintu bapak, ibu atau saudara-saudarimu saling menatap dan bertanya "Siapa?" kata-kata itu tak tertahan lagi mereka muntah dari mulutku di depan rumahmu 2020

Napas

. aku menemukan napas baru setiap harap kauhembuskan dadaku mengembang oleh masa yang akan datang bumi seperti bisa kuhuni meski seribu kali mati aku barangkali berubah bentuk namun cinta selalu meninggali dada yang diselubungi harap dan menjelma napas itu 2020

Keronta

ia serba hitam dilingkupi kegelapan tengah lengang seperti merenungi magrib yang bertandang, seolah selamat tinggal begitu berat dilontarkan pada senja yang usai semburat di langit dan benda-benda. lagu sendu diputar, mereka masih enggan melambai pada perpisahan. siut harmonika kian membekukan penyelaman semakin dalam hembusan makna tak hentinya mengelus batin yang keronta 2020

Di Bantaran Sungai

di bantaran sungai bengawan bising percakapan kembali nyata lintas masa adalah milik kita tak ada rambu dalam kata-kata ingatan tak pernah beruban namun kini adalah halaman yang tumbuh rimbun pertanyaan di bantaran sungai yang tenang kita tak tahu akan tergenang hingga nantinya ke mana 2020

Batu

mulut kau sebaiknya tak menjadi batu. aku rindu lidah yang sesekali menjulur seperti lambang Rolling Stones yang dulu sering mengejekku karena tidak ada sesiapa yang dapat menjangkau planet merah - kecuali pendaki galaksi Paman Sam - itu jangan batu yang itu. jangan pula mulut kau. batu hanya abadi bersama nama sekelompok orang pembuat gema di…

Diam

aku sudah diam tak perlu ada kata-kata mungkin akan diam seribu hari kemudian kata-kata terpendam telinga mereka baik-baik saja kata-kata juga sama halnya di mata mereka aku sudah diam tak terhitung diam itu kalau pun bisa dihitung tak ada seribu hari kecuali mengingat kematian

Sepatah Hamdalah

Di sebuah stasiun bilangan Jakarta Pusat - kota yang konon tak punya pelupuk mata - itu, aku merasai kesepian di tengah keramaian. Namun seperti ada keramaian di dalam kesepian itu. Keramaian yang bukan tercipta dari kebisingan kendaraan di luar maupun obrolan orang-orang yang berlalu lalang. Ada yang sendirian tetapi tak benar-benar sendiri, yakni bersama dalam…

Gadis India

Aku menatap kau seperti aku menyaksikan gadis India yang dipaksa bicara meski ia senantiasa berusaha melakukannya. Matanya biru seperti langit yang sering kau puja. Luas dan disertai mendung yang berkendara. Kau pasti ingin terbaring di sana, merasai lembutnya bak kasur kau yang menangkup mimpi-mimpi pada siang hari. Aku mengagumi kau barangkali sama seperti doa ibu…

Rintik Mata

kita tak perlu menelusuri kamar-kamar apalagi menggegam gagang pintu belakang karena kita tak pernah mengelus muka gerbang. cinta belum sempat bersambut di ruang tamu dengan segala kekosongannya air mata tak akan mengucur di lantai yang dimusuhi sapu dengan bulu-bulu yang lusuh. seperti kita yang urung niat membasuh rindu di kebun binatang. mengagumi monyet yang menari…

Layang-layang

hujan tersingkap dalam musim layang-layang. kau semakin ingin bermain. aku selalu menunduki hasratmu. usai jalan itu leher kita menyatu terikat seuntai benang ditiup angin utara. bersanding dengan layang-layang. tapi sayangnya, kita terus terbang hingga menyaksikan bintang-bintang untuk kembali sekejap dalam derap kaki-kaki keranda

Danau Keringat

Rumah Jalu tiba-tiba jebol pada suatu siang. Dari sebuah lubang, air mengucur deras. Air itu terus memukul tembok bak menjadikannya sansak. Lubang pun semakin bertambah. Dan akhirnya bangunan rumah itu runtuh juga. Hasil jerih payah Jalu selama berpuluh-puluh tahun tak bersisa. Warga berdatangan sontak terkejut. Tanah tempat rumah Jalu berpijak justru beralih menjadi sebuah kolam.…

Pengemis Maaf

Negeri di mana Jalu tinggal sedang dilanda virus misterius yang belum dapat ditemukan penawarnya. Beberapa langkah sempat ditempuh untuk mencegah datangnya virus, namun sayangnya pemangku kebijakan terlambat mengambil keputusan. Alhasil mereka kecolongan. Virus masuk dan sulit untuk diusir, apalagi dilenyapkan. Berbagai kebijakan tak berpengaruh terhadap hidup Jalu. Ia tetap saja mengemis di depan kantor pengiriman…

Tenggelam

aku telanjur menyelam pada samudera tanpa air tiada paus atau hiu ialah kedalaman dirimu lantas aku tenggelam dan tak sekalipun meminta pertolongan 2020

Negeri Air Bertuan

Lemboro telah bertubuh kering sejak ia memutuskan untuk berkelana. Ia mengenakan pakaian longgar yang sering berkibar seiring udara menghembus kencang. Ia memilih menempati ruang terbuka. Tak ada yang bisa menebak ia akan terbaring di mana suatu malam. Di tengah kondisi dirinya yang mencemaskan itu ia tak merasa terbebani. Ia justru menikmatinya. Lantas ingin berontak kepada…

Maaf (2)

// maaf adalah napasku yang setiap kali kau hempas. kubiarkan ia merambah di selang menuju dadamu yang tak ulung menuntun langkahmu pada benah. ia kerap kau tarik sedalam-dalamnya lantas terlepas sia-sia. 2020

Maaf

// maaf tak cukup diberi harga. di dalam kata ia ditelan maknanya sendiri. ia telah kurus-kering bergelimpangan di tengah carut-marut pundi negara. ia urung diterbangkan ke tanah saudi mengitari kerinduannya tujuh kali. bahkan ia tersingkir dari istana cendrawasih yang tak mengepakkan sayapnya berhari-hari. ia hengkang dari corong politis yang menyorong ke belahan singgahsana. ia mulai…

Kantuk

// kau. sekarat ditimpa kantukku yang bertumpuk-tumpuk namun kau selalu bertahan hidup tiap mataku menemukan benamnya. gelap. kegelapan yang tidak lebih gelap ketika mataku terbit perlahan-lahan dari arah yang belum diberi nama. sejenak. di sana kau mulai ada kau tersenyum kemudian tiada bukan mati. barangkali. mati suri sebab keberadaanmu seringkali menjelma hela napas sunyi dadaku…

Balon Udara

lebaran angkat kaki ditinggalkannya sisa-sisa pandemi untaian maaf menjulur dalam bentang jarak. sementara gawai menangkup paras manis yang dikeroyok rindu di penyeberangan. begitu ramah rumah menabirinya hingga kabel listrik terkejut akan kedatangan balon yang kehabisan udara. ia terjatuh bernyalakan api yang sesenggukan segelintir manusia tergidik bisakah mereka tersungkur dari kemanusiaannya. pandemi menyulap perut seperti kaca:…

Terakhir

pada hari terakhir air yang menjebol rumah mata menderas bak banjir ibu kota ia terseret bersamanya tangan ditinggikan di tengah keruh mengepal batu-batu penyesalan sejauh perjalanan sebulan penuh 2020 #BukaPuasaBukaPuisi30

Surat Ke-empat

JIKA benar suratku hanya pertepatan janji atau pemenuhan estetika aku harus menarik kalimat itu Aku. bersama surat-suratku ingin menjadi sungai saja yang terus mengalir ke laut matamu. Meski terkadang pesan dalam kondisi keruh sekalipun kuharap kau bisa menjernihkannya lewat rintik kata yang menjatuhi mataku. merembes ke dada tenang. menyejukkan. 2020 #BukaPuasaBukaPuisi29

Kerut

. aku berganti dari jalan ke jalan. langit marah melihatku keliaran hingga matanya memerah seperti warna bibir perempuan raksasa yang terkatung di papan berkala. (aku kecil. sebagai kutu aku senantiasa melompat mencari tempat penanggalan suratku) Oh! rambut bumi ini sudah berjatuhan digunduli bangunan. aku menyisir jalan dari helai kendara yang berantakan. langit kian geram padaku…

Karung

karung-karung mulai disinggahi tubuh padi. orang berbondong mengosongkan tangan dari pertanda jika musim pahala telah berada di ujung tanduk, raut muka perlahan dibentuk menyerupai langit yang tercekik oleh para mendung mata surya menyipit menitihkan tangis yang terurai bagai rambut perempuan. tiap kesempatan menjadi lubang yang sempit, riuh bisikan mendesak kebenaran agar tak mempunyai ruang untuk…

Jantung

. aku melupakan detik-detik yang menghitungku. ada kengerian anyar tiap jantungku berdenyar. aku sempat memikirkannya. meniup jantungku seperti balon yang mendesak tubuhku. terbang menuju dadamu. jantungku biar berdenting saja menyemarakkan debar cinta di sana . 2020 #BukaPuasaBukaPuisi26

Pulang

mengukur lima hari mengerut kembali melekap diri yang terserak bujukan duniawi. menggerapai ulur lengan yang maha suci ada kabar yang menyala remang mendetakkan sanubari yang lena bersarang dalam relung di gua yang sekian masa terhindar dari hentak gema. ranjang itu terdorong oleh pecahan air mata. utusan dari surga masih mendiami rahim ibunya. ia datang sejak…

Lantai

KAU menepis tangis pada suatu malam yang masih bisa dijumput menjelang pergantian pekan. lantai itu saksi tanpa penatap. tak pernah menerima gelitik air mata. kau terus saja menjungkal sangka yang tak menemui dasarnya. tapi mata itu berpencaran di sudut-sudut. setiap tolehan menjelma embus kata yang yang memasuki lorong rahasia. air matamu seperti air mataku mengalir…

Subuh

Aku menendang subuh ke langit dua pintu dengan sejumlah pertalian warna dan segala cuaca rahasia. Aku membidik jarum yang sudah menghitung angka sejak ia dilahirkan dari kepala. Subuh itu kembali jatuh menggencat mataku hingga memipih dan seakan tak tersisa kerlipnya. Aku singgah pada mimpi yang tak pernah dibangun siapa. Aku bisa melihat mataku sendiri dan…

Berlindung dari Hari Tua

magrib terpanggil dan ia masih mangkir berlindung dari hari tua rona mata menyempit seiring terkikisnya cakrawala isapan waktu kian berdaya mengukuhkan gulita ia merintih tetap memanggul nyeri di kolong tubuhnya 2020 #BukaPuasaBukaPuisi23

Peraduan

kau kian renggang dari hari belia matahari lama tak sudi berlinang mengucuri tubuhmu hingga tergenang aku peraduan lejar selimut waktumu di lengang kamar yang bertebaran lembayung pada langit sabtu kau bangkit namun banyak hal masih tertidur di kantung matamu nan sesak menyambut magrib yang menderu 2020 #BukaPuasaBukaPuisi22

Bunga Mata

dedaunan matamu tak berkutik bahkan untuk sekadar melambai padaku: bujuk rayu yang biasa membuatku datang menggebrak maluku lantas aku membangunnya kembali saat bunga matamu mekar penuh arti sampai aku kesulitan mengejawantahkannya. tahan. jangan menguncup kala petang mengecup keletihanmu. mekar. dan tetaplah mekar sebab matamu bunga penghidup magribku 2020 #BukaPuasaBukaPuisi20

Mata Bunga

matamu mekar pada tanah mataku mereka itu kah bunga? tak berbau terawat dalam mataku matamu menguncup memeluk mataku yang terpejam mata kita bersetubuh di belantara harum surga dengan segala macam air yang mengalirinya 2020 #BukaPuasaBukaPuisi19

Di Pabrik Sepatu

Aku kehilangan kakiku di pabrik sepatu. mesin-mesin sudah pergi ke luar kota. Aku belum bisa meraih gagang pintu pulang di mana tubuh saling bersambut memperdengarkan kisah rantau melalui desahan air mata. Mataku belum mampu memuji langit yang merah dari tanah mimpiku dan setiap matahari menyat dari persinggahan demi memanggil manusia tersibuk di dunia aku selalu…

Cairan

aku telah menjadi cairan yang menubruk rumah-rumah dan tubuh rambut pepohonan juga melompat merangkul udara ketika matahari akan menyingkir aku masih menjadi cairan namun menghilang pada tiap butir-butir percikannya. aku jenuh mencair di tengah ketidakpastian yang mengurung orang-orang di kandang melahap cerita kematian sementara gemuruh pergantian petang mengisyaratkan kemenangan dan bedug masih digebuk dengan irama…

Pemadaman

matahari ke barat mengantarkan saum menjumpai petangnya melepas kepergian dahaga tubuh jemari bergelundung di dinding dengan sedikit gemetaran kilat langit menyilaukan menyalakan waktu ia tak berdaya padam dalam bunyi hujan mata dijauhi cahaya meraba-raba ajakan kepada Tuhan 2020 #BukaPuasaBukaPuisi16

Sepatu Kata

tongkat nyanyian berulah: a meloncat ke luar angkasa barangkali i ditelan bumi melesat u bersama peluru e sembunyi di ketiak daun sente di kulit-kulit nada piano ada o nyanyian sudah bertiang: masa-masa irit aksara telah menamatkan diri zaman digulung zaman sekenanya saja bermain waktu ibu jari mengajak anak-anaknya bekerja sama lagi sepatu kata kembali berdecit…

Bulan Segenggam Batu

bulan segenggam batu yang menyala di larik gulita separuh bulan tanggal-tanggal memadamkan mimpi-mimpi para pekerja kian menyulut kepala memercikan gertakan yang membakar lirik doa sabar sabar sabar sebentar bulan itu menanti tanganmu yang ingin menyinari saku atau terlempar pada pagar biru

Langit Berbalik Badan

langit akan balik badan. aku memandangnya dari jam dinding dua tanda waktu yang tak saling meributkan hal-hal kecil seperti tidurnya orang setengah sinting mataku masih sempit meraih genting kamar yang lusuh kepalaku batu yang belum digempur. jalanku sempoyongan menyusur kediaman sendiri terkurung kemudian di kamar mandi. dua tempat istirahat dari hal-hal yang mendenyutkan leher belakang…

Aku Masih di Kamar

aku masih di kamar pada selasa malam kurang dari dua jam. kudengar gesekan baju di tengah alunan air terjun kecil di kamar mandi. ibu sedang bergelut dengan baju-baju kotor miliknya. kuperingatkan sebaiknya jangan sentuh piring-piring yang tergeletak di pojokan sebab tanganku bakal membereskan nantinya. aku masih di kamar menatap layar empat belas inci. memburu tugas…

Salon

ada ketimpangan dalam desakanmu: tentang mahkota seperti ombak gelombang yang renggang atau merapat kau harap bagai benang layang-layang yang bergoyang sebagaimana angin bertandang. kala itu, ribuan belum mencapai angka dua. tentu kau masih jauh dari ada. tapi jika kau pinta ke salon. mari! tapi aku mengajakmu namun aku yang menemanimu ke salon. menghaluskan mulutmu 2020…

Penutup Mulut

(1) ranjang persinggahan lara kian penuh. anjuran mulai berganti menjadi perintah yang sudah ditabuh: kenakan penutup mulut dan menjauhi ketidakpastian. (2) misal pemberi perintah tahu aku sudah biasa menutupnya kata-kata kupaksa terpenjara agar mereka tak keluar sia-sia agar berkurang dengung di telinga ibu. namun berkali-kali ia meminta perulangan sampai pertanyaan bersambung menemui tamatnya atau ruangan…

Di Sampingmu

ia di sampingmu senantiasa meresap dalam tubuhmu; jalanmu adalah kakinya pandangmu adalah matanya tuturmu adalah bibirnya jabatmu adalah tangannya berada di sampingmu ia hingga serasa tiada 2020 #BukaPuasaBukaPuisi11

Beradu

malam memeluk tikar manusia manusia yang mendekati gunung- gunung lautan pula melalui kendaraan paling ringan. melalui satu dua kata di mesin pencarian. dan gunung-gunung lautan berderet mengantri disetubuhi matanya. (apakah gunung-gunung lautan masih berkawan dengan udara masing- masing atau mereka sudah saling menukar sementara manusia hanya bisa merangkul kata-kata sepi melalui matanya?) tolonglah! gunung-gunung lautan…

Jarak

pintu sujud terkunci sekumpulan pahala bersayap beterbangan menggoda umat niat diberi jarak membentang jalan Tuhan di area parkiran 2020 #BukaPuasaBukaPuisi9

Kecantikan Itu

setiap bulir mata itu adalah luka yang menyayat bahkan jika cekang wajah menjadi papan dapur yang kebal irisan dan ingatan tak melemah sedikit pun demi menadah perempuan yang telentang di persegi ranjang ia yang sering menyibak rambut dengan jepitan jemari jatuh helai demi helai pada parasnya yang mengerut kecantikan itu rumah tempat tinggal yang seakan…

Candu

canduku adalah canda itu rinduku adalah ragu-ragu sering ini, asing kita dahulu penat mungkin, riang kita waktu itu jika rasa timbul sebab terbiasa barangkali dari perhatian pula hilang semacam serpihan bimbang resah bergumul bila tiada kabar dan kita bersandar pada keadaan segala ini di batas kawan yang begitu nyaman 2020 Distapina

Tak Ada Magrib Pekan Ini

Tak ada magrib pekan ini petang kamar adalah urusan yang memenjarakan jemari piktograf yang gaduh tak ingin memenangkan lontaran pesan dan nyanyian suci sunyi memadat di pendiangan sepasang peranti makan menepi perut menyabar tanpa henti 2020 #BukaPuasaBukaPuisi7

Sais Pedati

jika bajingan sekadar umpatan betapa bising telinga kau menjadi lorong yang dimasukinya atau kata-kata gula yang sempat menyipu pipi kau seketika memerahkan mata musabab air mengalir saja akibat mulut yang sejatinya pengecut tapi jika bajingan sesungguhnya adalah lelaki sais pedati akankah kau sudi bercincin berjanji setia mengikutinya bahkan saat persawahan diinjak bangunan tinggi dan corong…

Kisah Dua Kata

kau lempar itu: dua kata di rumah pesan yang berada manusia saling mengenal dan mengasingkan raut muka nyaris kelancungan dua kata menyatu adalah nama nama yang mendiami dua jiwa satu berkutat di bumi satu lagi di surga: tengah berenang, berlari atau terbang di kediaman tanpa ujung dan batas tak terbayang dalam bayanganmu pada terik yang…

Di Luar Pagar Itu

(1) diam adalah amarah bukan kata-kata jika makian memuntah tiada arti menderas ke ujung hati matahari itu matahari yang meleleh di tubuhku aku adalah cucian yang kau tinggal di luar pagar aku tak sungguh berdusta tapi terlambat menjemput kebenaran kebenaran atas kebenaranku tapi salah pun bisa menjelma pembenaran sewaktu-waktu (2) sebaik-baiknya jarak adalah jauh dari…

Jalan Pintas

jalan paling pintas adalah doa ayah dan ibu yang menyudutkan siku membentangkan telapak tangan selebar-lebar surga surga selebar-lebarnya kita kembali berkeluarga berjumpa dan bercengkrama dari nabi ke nabi tapi doa ayah dan ibu mustahil mengharap kita mati 2020 #BukaPuasaBukaPuisi4

Puing Senja

dunia berhenti sebagai dunia jantung-jantung berdetak seperti palu jalan menjadi jalan dan buntu keheningan yang durjana mengepal bak tangan petinju menghantam perut muntah-muntah waktu ia membayangkan pekan-pekan yang disederhanakan dengan kata-kata menggantung di kapal yang memar dihajar hujan dengan helai rambut di lantai yang gatal digelitik zaman ia mengarang saja mengerang di antara puing senja…

Bunyi yang Sepi

jenuh adalah keniscayaan ia akan tiba dari persembunyian bahagia itu kapan-kapan lelaku menghadap sunyi sejak bulan kedua berkaca meski tak ingin berkaca senyuman bias dalam gambar dan tatanan abjad tertawa pada kata-kata padahal mereka tengah menertawai dentum jam terabai magrib seakan meniada lapar menjadi bunyi yang sepi 2020 #BukaPuasaBukaPuisi

Darah Daging

Sebenarnya ini bukan persoalan yang rumit namun bukan berarti bisa diselesaikan dengan cara yang sederhana. Terkadang kita ingin memberikan pelajaran terhadap orang lain lewat cara kita sendiri, bukan cara yang kerap dipakai orang pada umumnya. Tapi intinya tetap pada tujuan serupa. Ihwal kata-kata yang segar menguar dari mulut sebagaimana adanya pemikiran sekilas, kilat, dan sempat.…

Denai tanpa Rinai

Dan ribuan jiwa mulai memungkiri denai tanpa rinai hujan meski tubuh muhal ranai namun cemas berusul dari alit yang amat keliar penjaja berkeluh hampa di birai menengah sekali kembali ke birih saruk tak ramah kantung di hadapan petunjuk yang menggantung raga berdeging sekian di bulan akhir lalui ragam doa merupa nyanyian batin yang melengking

Perempuan di Balik Tirai

Suatu waktu, aku terbangun karena percikan air mengetuk kulitku pelan. Awalnya aku merasa sedang bermain, saling melempar air laut bersama kawan-kawan di alam mimpi. Namun butir padat hujan ternyata tengah berjatuhan disertai angin yang cukup kencang. Mereka menembus celah sempit atap dan ventilasi kamar untuk membuat tidurku terhenti. Aku masih terbaring lemas memandang jendela yang…

Kekang

awal harapan adalah semoga lebih baik dan selalu baik namun angan memilih bentuk lain ketika aksara menyuarakan semesta menutup itu lebih baik akses terhenti kurcaci merintih dan memekik: kapan aku bisa main? kapan aku bisa jalan-jalan? kapan bumi akan bebas? kapan kemudian kapan? semua hanya terucap menjadi halusinasi semata pemandangan diambang terang menuju gelap tutup!…

Memutar Kesedihanmu

sekian kali aku memutar kesedihanmu dengan segala perihal rindu kepada sengguk suara itu yang menggambarkan pilu dan diarsir canda beberapa kau bilang memapah ibumu pulang adalah beban paling berat nyata seperti ilusi semata aku mengerti setidaknya pada pengertianku sendiri abadi tak berkaitan waktu seberapa usia menghitung kita bekas kasih itu musykil sirna turun-temurun dalam masa…

Tangan Malam

malam dan tangan tiba-tiba bisa diukur dengan kiasan; panjang panjang panjang hari yang berkucuran gelap itu kegeraman dibendung hening yang setiap jam dapat meluap membanjiri orang asing yang berdiri di depan pintu dengan badai hantaman kabut tak ingin mengaburkannya dan berlari-lari menuju sunyi adalah menyongsong kematian

Sebentar

gawai kau kedatangan pesan bertumpuk dan teraduk dengan lara sebab kepergian tapi sebentar kata kau waktu perlu kau miliki sendiri untuk hari atau bulan atau tahun yang belum bisa ditentukan hati kau masih seperti manusia tapi sebentar kata kau lagi apa kabar itu hanya menjadi persoalan yang menakutkan untuk kelangsungan mereka kekecewaan tak niat kau…

Tragedi Sungai

ia tak pernah membuat jalan sendiri hanya saja; langkahnya terhuyung menapaki takdir sejak surga terlupakan itu menjadi angan-angan manis waktu adalah aliran sungai yang deras menyelamlah ia menubruk bebatuan dibenamkan pasir dasar malaikat memeluknya menerbangkan ke permukaan lebih jauh lagi ke tempat di mana ia sempat melupakannya

Malaikat dalam Percikan Air

sekian hari sejak februari malaikat menjadikan percikan air sebagai teras yang terkadang istirahat menyaksikan lalu-lalang nyawa lantas dipersilakan masuk tanpa mengetuk nyaring kembang-kempis napas itu; dua lubang hidung yang bersemak ke selang tenggorokan yang lengang lalu ruang dada yang mengerut hampa aku tadi di jalanan kau di rumah tetapi dia di kamar darurat

Rumah Kau Semalam

mimpi aku adalah rumah kau kala tirai mata menutup sepertiga jam dinding aku temui kehidupan di balik tudung saji sementara kau sibuk membilas peralatan agar kembali menuju harga barunya semula aku menantikan kau di meja yang sama tempat perut lemah ditaruh selama nutrisi menggantikannya aku melontarkan tanya; pagi seperti apa yang tega mengganggu kau di…

Ruang Ganti

ada tangis di ruang ganti air mata tak lagi bersuara kehilangan yang beratap sunyi betapa Tuhan mencintai ibunya disediakan ranjang istimewa di surga agar mimpi mengantarkannya ke sana

Hari Merah

ia mencuil selaia menyitir cutiia meraup liburia menyauk vakansiia tandai minggupagi di ubun gunungpetang di bibir pantaimalam di perut kota tuaia cekuh tamasya dari sakuia temui amplop pipihsegalanya menyilihsejenak, ujar pengelolaangka-angka merahlampu merah jalanmerah papan seruanlagi-lagi bendera merahia ingin rumahdengan selimut kabut dengan penyangga senjadengan matras gempitaia melangkaui bulan merahtanpa bayangan laratanpa cina dan amerikasemesta…

Pinta Suara

aku ingin meminta izin sebentar biar kuralat aku bukan sedang ingin aku mau mengajukan tanya bolehkah? iya baru saja aku izin meminta suara kau tunggu bukan untuk memilih bukan mengisi kotak suara keperluan menyusul saja aku meminta suara kau itu saja sekali lagi sekian kali akan aku ulangi bolehkah? 2020

Lagu Barat Pemangkas Rambut

ia tak mengerti kata-kata asing namun bibirnya komat-kamit menerjemahkan telunjuk yang mengetuk tulang kursi petikan nan lirik sendu melebur dalam rindu; kaki-kaki yang datang kemudian pulang membuka pintu dengan kepala baru 2020

Budak Cinta

dia tahu tuan berada di hari ulang tahun dia tahun itu tahu jika tuan bisa memeluk siapa saja tuan ingin tahu tahun dirangkul dia dia tahu jika tahun hanya milik tuan tetapi bucin separuh tahu siapa tuannya 2020

Lampu Hias Merapi

suatu sore aku memandu kau berenang di danau pandang. dalam jarak senja kau basah menyelami ketakjuban dan mengepakkan tangan kau di pundak aku bibir itu terasa merengkuh permukaan yang sempat melabuh ke pulau dzikir lingkar mata kau menasbihkan bintang di tubuh merapi "bisakah kau membelinya?" ujar kau sedapatnya aku bakal memulangkannya dengan harga jelata seperti…

Sepasang Pria dan Abu

sepasang pria dan abu yang berjatuhan merundung perempuan yang berjejalan soal kaca penampung teh sudah berlumuran jejak hembusan hujan perbalahan masih gerah seiring kunyahan yang meleleh di lidah kata-kata kian gahar di tubir jalan batas kota penunggang gandaran tiba melenyapkan keriuhan lontaran jeda membekam madah yang berdesakan tatap menirus pada leher kupu-kupu dara dua dasawarsa…

Sorga di Pucangan

kata-kata telah menjadi angin yang tak sepenuhnya sia-sia seperti malam yang menutup pintu namun semua orang punya kuncinya belakangan ia menjadikan Pucangan bak sorga di depan ketukan ajaib itu sua adalah harapan yang ditumpuk menyesakkan dada, berpalingan muka menuju kedalaman yang kosong sesering itu telinganya melompong tanpa nyanyian bulan silam napas terhempas muram ia bersedihkah?…

Empat Angka

empat angka satu dikepalai nol mata meminta lekas merumahkan diri dalam jendela malam sebongkah kangen ditawan tiap kelopaknya melambai-lambai adakah sosok itu pada mimpi yang tengah menggigil dalam cercahan embun dini dan ampas kopi yang terabaikan gerus napas seolah ingin memaki istirahat, istirahatlah jiwamu sambut ramah kehadiran rindu di pagi yang menukil mata menebar tatap…

Mati Sunyi

dan bolam remang-remang sudah cukup mengesampingkan kau dari desakan hasrat, memijat tombol kehidupan dunia. kabar-kabar sedang tak baik, akan belingsatan jika kau nekat. kematian telah mesti kenyang kau telan di rumah, beban kau berat menyangga ketakutan selang jam kau perlu mengelus kaki kau agar sabar tak pernah menemui habisnya supaya ujung penantian nanti bunga-bunga sedap…

Kubangan

dunia kian lebar dalam tumpukan pekan pembangkang menjumpai masa runtuhnya menjadikan pagar sebagai batas ancaman hidup atau mati, sejumlah ranjang di sana senantiasa memanggil dan mengucap selamat tinggal pada keesokan hari debar yang tabu bertambah gasak pemedihan yang terasa menyenangkan seperti kata bajingan yang berumahkan puisi betapa magis aksara meredakan lara terkadang rindu tiba bersama…

Memelihara Jarak

pada jarak yang terpelihara angin tak pernah mendengkur; menggoyang dedaunan menggetarkan kabel listrik menyibak rambut anak kecil burung-burung pun kerap limbung mengangkut pesan berantai sementara kita senyap menghiraukan ruang tamu bergulat sabar menyungguhkan diri dalam makna sebentar kerinduan akan sampai

Peserta Harian

langkah-langkah itu separuh buta bahkan untuk mengertakkan pagar besi hari masih bayi pembelajar rangkakan tidakkah di balik tirai itu seharusnya ia mengakui punggungnya. napasnya bercampur alunan temaram anak-anak keringat tertimang di keningnya ia menarik angin, pelan lalu sekuat tenaga menyambangi penanda gelap mata barusan kakinya telah tiada. 2020

Korona (2)

Si alit menjalar dan kita mengitarkan kemungkinan untuk pulang dengan gaya paling indah pertanyaan dan jawaban berulang: kamu tak apa? tentang apa? semuanya kamu tak apa? soal apa? seluruhnya apakah kamu jenuh? belum pernahkah kita bahagia? sabar, aku sedang menghitungnya sudahlah kita takkan selesai melakukannya 2020

Korona (1)

ia melenggak sebilang waktu tak terlukis olehnya langit menyepi adakah burung-burung berhenti merajah kelir cakrawala ia tergugah di sekelilingnya memangkal renungan sepintas perhatikan dan hati-hati kedamaian melembak di sana? 2020

Cemilan Neneng

serasa datang pada tenggak sapu lidi menyapu lidahku hingga merata merah napas tarik-kendur menerjemahkan cempala nan tekan jemari tak ingin enyah dari kepala dan aku teremah dalam ngiang-ngiang ketelanjuran di bilik tatap sepasang persinggahan begitu renggang tubuhnya dari cengkaman manja waktu yang bertumbukan aku ingin beranjak dari meja ke meja menghirup masa yang harum seperti…

Benam Kegetiran

Aku melihat tumpah air langit membungkam langkahmu kali ini tak seperti biasanya kau menerjang keriuhan yang menyingkap teriakan relung dadamu yang membiru Kau merindukan kehangatan, bukan? pelukan yang hampir terlupakan itu melesap dalam kelam tak bersisa bahkan bayang sejengkal saja Jika saja kegetiran bisa kubenamkan tapi, bolehkah? 2020

Masa Silam yang Sempit

aku sedikit berputar jika asap ini mengantarku pulang pada akhirnya hari-hariku di sisimu semacam menjauhkanmu dari segala ancaman sebelum bayi itu serius menendang kantungnya dan jika anak-anak itu nanti tetiba terhenti dari pelariannya menuding sumpal mulutku mungkin harus mengambil jeda lebih lama berada di sampingmu menerka hujan jatuh di bulan apa kita bisa saja memilih…

Hanya Dupa

tak ada wewangian hanya dupa saat aku melihat batang-batang yang menyiratkan dirimu tanpa nyala api namun menenangkan tak ada keharuman hanya dupa saat udara keluar dari sela-sela ruangan yang menuju hening tanpa asap ia menjabarkanmu tak ada dupa hanya dirimu tanpa perantara dalam kepalaku 2020

Sunyi yang Hujan Itu

- Terik siang itu mencekat apa saja yang diteranginya, bahkan barang-barang di dalam sebuah bangunan bisa pula mengeluarkan keringat seandainya mereka berkulit seperti halnya manusia. Ada suatu momen yang hanya dapat ditarik dua bulan sekali dalam kampus yang lumayan terkemuka di kota kecil bengawan. Setiap yang berkawan selagi bahagia di hari itu, sontak berkunjung mengucapkan…

Masuk dan Tinggal

aroma bunga itu sudah pergi sejak kau membiarkannya layu di laci yang penuh dengan hasil rangkaian tangan sucimu, tiada tanda-tanda getaran di dalam batang yang kini merapuh, warna lekat pada daun memudar seiring luka dada yang berpendar tapi jejak aroma itu masih mungkin kau telusuri lantas terkumpulkan menjadi gumpalan wewangian yang bisa kau kirimkan melalui…

Kala Aku Melihat Angin

Kala aku melihat angin terasa seperti kesetiaanmu yang tak lekang oleh jarak walau menembus gunung lautan bahkan negeri kita, meski surya terbenam ratusan kali kau masih membui perasaan itu padanya, sedangkan aku kian tak mengerti terhadap keganjilan yang sudi kau pelihara Sejujurnya aku kebingungan harus menyerahkan apa lagi selain penerimaan terhadap takdirku sendiri, relung dadaku…

Lubuk

semua pudar belum lenyap segala perasaan yang terbentur pada kata-kata yang membatu berimbuh maklumat yang seharusnya bisa kau sangkal bagaimana jadinya jika takdir tak selesai kuburu lalu sangkakala memerdukan kita dalam damai yang terik kecemasan merundung sebab kata-kata tak pernah sampai seperti nilai yang menghening ketakutan perempuan itu mana bisa menyangka malaikat meringkus cintanya terlesap…

Kembali

alangkah baiknya kita mengatur degup yang sempat tersedak sayup itu magrib berkelana beruluran menata sendu menuntun rindu pada jeda alangkah baiknya kita kembali dalam suatu hari yang renta senja itu meniris awan jenuh menjadi butir pemilih tempat untuk jatuh

Pasar Biram

bulan berganti sekali lagi kian menumbuk pikiran emak kian memompa was-was emak tapi persoalan tak pernah sekian sumber keberuntungan di pasar surut ratusan kios sudah dilahap api sialan! siapa sengaja memberangusnya ramai itu rezeki, bukan sepi tapi lihatlah dari gerbang masjid becak tak bisa lama berhenti melansir penumpang, waktu itu halaman depan bak seni tinggi…

Pusara

pada waktu yang landai cermin gawai menyala pesan kematian datang seperti lusa anak-anak telah pulang menitik air mata di pusara kala magrib minta direnggut ditabalkan dalam malam yang paling surut saat surga dijemput tawa-tawa kecil menghias bibir ibunya riang dan langit pun berkerut mengintip kasur meradang

Sekat Musim

jeruji bergulir menggerus butir-butir hujan yang menggenang terlempar kala digencat terburu-buru sempat tergesa menuju gubuk pandang waktu seputar sekali dalam pekan perjalanan kian berat saat menempuh barat semakin deras air jatuh mengeras langit menyurut menumpahkan lautannya secara urut kerutan awan menyilam senja menumpuk kabut di mata *** australia kangguru dan koala berlarian ketakutan bertahan dalam…